3 Mar 2020

Kontroversi Judul Kolom “Sick Man of Asia” di Tengah Wabah Corona

Sebanyak 53 orang reporter dan editor the Wall Street Journal (WSJ) mendesak top eksekutif mereka untuk mempertimbangkan mengubah judul opini dan meminta maaf. Judul opini dimaksud adalah “China Is the Real Sick Man of Asia” yang ditulis oleh kolumnis Walter Russell Mead, profesor di Bard College, New York. Opini sepanjang 11 paragraf tersebut memaparkan dampak ekonomi yang bakal dialami China atas penyebaran wabah corona.

Desakan tersebut disampaikan awak redaksi WSJ melalui surat yang mereka tanda tangani, yang sekaligus juga berisi kritik terhadap top eksekutif media tersebut dalam merespons judul opini kontroversial yang ditayangkan 3 Februari lalu. Mengutip The New York Times, surat tersebut dikirim ke pimpinan WSJ pada 20 Februari lalu, persis satu hari setelah pemerintah China menyatakan akan mengusir tiga wartawan WSJ yang berkantor di negara itu.

“Surat tersebut, yang diulas oleh The New York Times, mendesak pimpinan media untuk mempertimbangkan memperbaiki judul dan meminta maaf kepada para pembaca, narasumber, rekan-rekan media, dan siapa pun yang tersinggung dengan opini tersebut,” mengutip nytimes.com.

Tangkapan layar kolom yang dianggap rasis.

Ke-53 awak redaksi WSJ yang menandatangi surat sependapat bahwa judul opini tersebut “merendahkan”. Surat itu dikirim melalui surat elektronik Kepala Biro WSJ China Jonathan Ceng—yang tidak ikut mendatangani surat—kepada para bos eksekutif yang memimpin perusahaan penerbit surat kabar WSJ. “Cheng menyerahkan surat tersebut kepada dua eksekutif, menambahkan bahwa dia percaya penanganan yang tepat atas masalah ini sangat penting untuk masa depan keberadaan mereka di China.”

Pemilihan frasa “sick man of Asia” dikritik secara luas karena dianggap melanggengkan stereotip bahwa orang-orang China sarat penyakit dan tidak bersih. Kritik terhadap WSJ memang sepenuhnya terkait dengan pemilihan diksi dalam judul kolom tersebut, bukan karena isi artikelnya.

“Konsekuensi dari penerbitan opini seperti ini oleh media arus utama memicu lebih banyak rasa takut dan kecemasan, dan meningkatkan permusuhan terhadap orang China dan Asia lainnya di seluruh dunia. Ini sangat berbahaya dan salah,“ kata Catherine Ceniza Choy, profesor kajian etnis University of California, Berkeley, dalam wawancara kepada NBC News.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunyin keberatan dengan opini tersebut dan mengatakan dalam konferensi pers, “Walter Russell Mead, Anda seharusnya malu dengan kata-kata, kesombongan, prasangka, dan ketidaktahuan Anda.”

Kemarahan pemerintah China atas judul opini tersebut membuat tiga wartawan WSJ yang berbasis di China diusir dari negara itu. Ketiganya diberi waktu lima hari untuk mengepak barang-barang mereka dan meninggalkan Tiongkok. Mereka adalah Wakil Kepala Biro Josh Chin dan reporter Chao Deng (keduanya warga negara Amerika Serikat), dan reporter Philip Wen (WN Australia).

Beberapa jam setelah pengusiran, Kepala Eksekutif dan Penerbit WSJ William Lewis mengatakan, judul opini tersebut tidak bermaksud untuk menghina. Dia mengakui bahwa hal itu memang benar-benar mendapat perhatian luas dan membuat masyarakat China kecewa, dan mereka mengakuinya.

“Kebutuhan akan pelaporan berita yang berkualitas dan terpercaya dari China lebih besar dibanding sebelumnya, dan keputusan untuk menargetkan wartawan di departemen berita kami merupakan tindakan yang menghambat upaya itu,” kata Lewis dikutip dari Washingtonpost.

WSJ dimiliki oleh News Corp, yang pimpinan eksekutif dan pemegang saham terbesarnya adalah konglomerat media Rupert Murdoch.

Sementara itu, mengutip Time, tindakan pemerintah China mengusir wartawan bukanlah kali pertama dalam sejarah negara itu. Pada Agustus 2019, seorang WN Singapura yang bekerja untuk surat kabar di Beijing dan ikut menulis laporan tentang sepupu Presiden Cina Xi Jinping, dikeluarkan setelah para pejabat menolak untuk memperbarui kartu identitas persnya. Kementerian Luar Negeri saat itu mengatakan, pengusiran Chun Han Wong dilakukan karena pemerintah “menentang wartawan asing yang secara jahat mencoreng dan menyerang Tiongkok. Wartawan seperti ini tidak disambut baik.”

Pada 2019, China berada di peringkat 177 dari 180 dalam Indeks Kebebasan Pers. Partai Komunis yang berkuasa, bukan hanya mengendalikan media di negara itu, mereka juga memiliki organisasi media sehingga sulit mengharapkan media untuk mengkritik pemerintah. (dka)

Leave a Reply