13 Apr 2020

Yang Bisa Dipelajari dari Wartawan China dalam Meliput Covid-19

Merebaknya pandemi virus corona memicu gelombang baru pada pemberitaan di media China. Beberapa bulan sejak pandemi dimulai di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, media di negara itu menghasilkan laporan investigasi berkualitas tinggi, jauh lebih banyak dibanding yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Di China, di mana terjadi pembatasan oleh pemerintah, laporan investasi memang mengalami penindasan, meskipun entah bagaimana berhasil bertahan.

Upaya para jurnalis negeri Tiongkok menjadi sorotan karena dianggap menciptakan kebangkitan kembali pelaporan investigasi. Wartawan China saat ini bekerja keras melaporkan Covid-19 yang menewaskan lebih dari 3.200 orang di negara itu.

Mereka bekerja di tengah kondisi yang luar biasa: ancaman kesehatan yang mematikan, kurangnya data yang dapat diandalkan, trauma yang meluas, penyensoran resmi, dan karantina yang dikenakan pada sekitar 50 juta orang.

Ilustrasi. (Pixabay)

Kini, dengan Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, nasihat apa yang dapat dibagikan wartawan China kepada sesama jurnalis di seluruh dunia? Editor Global Investigative Journalism Network (GIJN) China, Joey Qi, mewawancarai beberapa jurnalis yang berada di garis depan peliputan Covid-19. Hampir semua jurnalis tersebut meminta namanya tak disebut atau anonim.

Mereka memaparkan sejumlah tips berdasarkan pengalaman mereka selama meliput pandemi corona, sebagaimana dikutip dari laman GIJN.

Pelajari Hukum dan Aturan Dasar

Kalau kamu bukan seorang reporter kesehatan, pastikan memahami undang-undang dan peraturan dasar untuk penyakit menular, serta prosedur pencegahan dan pengendalian, sebelum melakukan liputan. Misal, tentang kriteria diagnostik untuk Covid-19, prosedur pelaporan penyakit, atau metode pengendalian penyakit. Informasi ini akan membantu memahami sistem pencegahan dan pengobatan penyakit menular.

Meneliti Kebijakan

Ketika setiap ruang redaksi meliput Covid-19, penting memberitakan cerita dengan beragam sudut pandang. Wu Jing, reporter Health Insight—media daring yang fokus pada industri perawatan kesehatan—mengatakan, para jurnalis sering dapat menemukan cerita dengan memeriksa kebijakan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit.

“Misal, setelah dilakukan karantina wilayah di Wuhan, harus dipikirkan masalah apa yang mungkin dihadapi warga. Apakah ada layanan antar-jemput yang disediakan untuk pasien ke rumah sakit? Saat membuat kebijakan isolasi, sudahkah pemerintah daerah mempertimbangkan hal ini?” kata Wu Jing.

Dengan meneliti kebijakan seperti ini, akan terungkap cerita yang tidak dilaporkan.

Jangan Abaikan Rumah Sakit Kecil

Ketika virus baru muncul, penting mengajukan dua pertanyaan: apakah virus ini baru, dan dari mana asalnya? Ilmuwan China dengan cepat menemukan jawaban untuk pertanyaan pertama, tetapi yang kedua tetap menjadi misteri parsial hingga kini.

Huanan Seafood Market, pasar basah di Wuhan, saat ini diidentifikasi sebagai tempat dimulainya Covid-19. Wu Jing mengatakan, jurnalis biasanya fokus pada rumah sakit besar. Padahal rumah sakit kecil di dekat pasar basah ini tidak boleh diabaikan, karena bisa saja menemukan petunjuk penting untuk bahan liputan.

Libatkan Diri dalam Komunitas

Beberapa wartawan China mengatakan, wawancara informal dengan dokter, sukarelawan, dan penduduk membantu pelaporan mereka. Hal tersebut memungkinkan mereka menemukan cerita dan narasumber yang tidak terduga Karena itu, penting menempatkan diri di lokasi dengan transportasi menuju komunitas terdampak.

Cari Sumber di Media Sosial

Ketika Covid-19 tersebar luas, terjadi kekurangan sumber daya medis dan banyak pasien meminta bantuan di media sosial. Sebagian besar berasal dari platform asal China mirip Twitter yaitu Sina Weibo dan aplikasi pesan WeChat.

Pastikan bahwa sumber di media sosial hanya merupakan informasi awal yang harus dikonfirmasi ulang kebenarannya.

Tunjukkan Kebaikan dan Bangun Kepercayaan

Para pasien dan tenaga medis sama-sama menderita karena virus ini. Penting bagi jurnalis bersikap baik kepada mereka yang bersedia diwawancara, dengan menunjukkan empati, menawarkan perlengkapan pelindung seperti masker atau alkohol untuk disinfeksi, dan membantu menghubungi organisasi bantuan jika diperlukan. Begitu juga untuk mereka yang menolak untuk diwawancara, jurnalis harus menghargai.

Bekerja Sama dengan Editor

Untuk menghasilkan berita investigasi yang kuat sangat tergantung pada perencanaan dan kolaborasi dengan editor. Di tempat kejadian, reporter menghabiskan waktu melakukan wawancara dan menemukan cerita.

Hal ini membuat reporter mudah kehilangan jejak perubahan dalam opini publik atau minat audiens. Saat itulah, editor memberikan nasihat penting tentang fokus cerita yang harus diangkat.

Editor harus dapat melihat situasi dari perspektif lebih luas. Saat mengerjakan proyek besar, mereka membagikan tugas kepada wartawan dan mengatur pelaporan untuk publikasi. Selain itu, staf ruang redaksi harus memberikan dukungan praktis dan emosional kepada wartawan di lapangan.

Berita Harus Jelas

Meliput penyakit menular mengharuskan wartawan punya pengetahuan khusus soal kesehatan dan kedokteran. Selain memberi informasi dan jurnalisme berbasis bukti, wartawan harus dapat menjelaskan atau menerjemahkan istilah-istilah ilmiah untuk publik. Hanya dengan begitu, publik dapat memperoleh pemahaman lebih baik tentang keseluruhan situasi.

Merawat Diri Sendiri, secara Fisik dan Emosi

Meliput pandemi dan mengikuti semua berita yang relevan setiap hari bisa menjadi pengalaman traumatis bagi jurnalis. Anda harus menjaga diri secara emosional.

Beberapa reporter yang meliput Covid-19 di Wuhan berbagi tips tentang bagaimana mereka melakukan perawatan diri:

1). Jangan pernah mengurung diri di kamar sepanjang hari. Pastikan melihat dan berbicara dengan keluarga dan kolega.

2). Pilih kamar hotel dengan pencahayaan bagus dan jendela dengan pemandangan. Hal ini karena lingkungan fisik dapat berdampak signifikan pada emosi Anda.

3). Jangan biarkan diri tenggelam dalam berita terkait penyakit. Alihkan perhatian dengan membaca atau menonton konten yang tidak terkait juga bisa membantu.

4). Tidak apa-apa menangis untuk meluapkan emosi, ketika merasa stres.

5). Menjaga kesehatan fisik dapat membantu ketika berhadapan dengan emosi negatif. Cobalah meditasi, yoga, atau bentuk olahraga lain agar tetap sehat. (fau/aks)

Leave a Reply