28 Apr 2020

Buku “Bertahan di Wuhan”, Cerita Pewarta ANTARA Meliput Korona

Buku berjudul “Bertahan di Wuhan: Kesaksian Wartawan Indonesia di Tengah Pandemi Corona” menjadi buku pertama yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama tentang pandemi virus korona. Penulisnya adalah M. Irfan Ilmie, satu-satu wartawan asal Indonesia yang mengantongi izin liputan menetap di China.

Irfan menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA sekaligus satu-satunya wartawan Indonesia yang mendapatkan akreditasi tetap menjalankan tugas jurnalistik di China. Pada Januari 2020, Irfan menjadi saksi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu menjadi lumpuh selama menghadapi pandemi.

Dalam buku tersebut, Irfan merekam tekad dan optimisme China dalam memerangi pandemi. Terselip juga pesan kemanusiaan yang disampaikan masyarakat Indonesia dalam mendukung pemulihan Wuhan beserta untung-ruginya jika sebuah kota atau negara, seperti Wuhan saat itu, menerapkan kebijakan lockdown.

Kepada Aksara Institute, Irfan menuturkan, 40 persen dari isi buku tersebut digarap selama dia masih berada di China. “Sekitar 60 persennya di Indonesia, tapi fokusnya tetap menceritakan tentang epidemi di China dan kondisi para WNI kita,” ceritanya.

Buku setebal 103 halaman ini juga mengisahkan tentang pengalaman Irfan sebagai wartawan Kantor Berita ANTARA yang juga Kepala Biro ANTARA di Beijing, yang bertugas melakukan reportase harian tentang kota Wuhan dan penanganan Covid-19 di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Irfan mengatakan, jurnalis asal Indonesia yang mengantongi izin melakukan liputan menetap lebih dari tiga bulan hanya ANTARA. Sementara wartawan Indonesia lain hanya mendapatkan visa jurnalis temporer dengan durasi kurang dari tiga bulan dan hanya meliput agenda tertentu berdasarkan undangan dari China atau Indonesia.

Menurut Irfan, data kependudukan di KBRI Beijing yang dilaporkan secara berkala selalu menyebutkan, WNI per tanggal sekian berjumlah sekian jiwa plus satu orang wartawan. “Ya (wartawan) itu adalah saya. Saya pemegang kartu identitas khusus wartawan asing yang diterbitkan oleh International Press Center Kementerian Luar Negeri China,” kata Irfan.

Sebagai pemegang kartu identitas khusus tersebut, Irfan dapat mengikuti konferensi pers reguler di Kemlu China, undangan-undangan resmi seperti upacara kenegaraan, sidang parlemen, kongres partai, serta acara resmi lain yang dihelat pemerintah Tiongkok.

“Regulasi media di China sangat berbeda dengan di Indonesia, karena China negara sosialis, bukan demokratis. Jadi bisa dibayangkan pers di China tidak sebebas di Indonesia atau negara demokrasi lainnya,” tutur Irfan.

Pada Februari lalu, di masa awal virus mulai mengganas, Irfan kembali ke Indonesia. Kepulangannya juga disusul dengan imbauan dari KBRI Beijing kepada WNI di China untuk juga kembali ke tanah air.

“Sampai saat ini tidak ada WNI baik yang sudah pulang kampung, maupun yang masih bertahan di sana yang terkena virus. Ini sungguh hal yang luar biasa, padahal China adalah negara pertama terkena wabah,” kata Irfan, yang telah bertugas di China sejak tahun 2017.

Banyak suka duka yang ia alami selama liputan pandemi. Irfan bercerita, saat Wuhan diisoloasi pertama kali, ia sempat terjebak di Kota Tianjin. Irfan lantas menghubungi sejumlah WNI untuk menuliskan kisah mereka, mulai dari yang mengharukan hingga membangun optimisme.

“Saya padukan dengan situasi dan kondisi di Wuhan, baik yang digambarkan oleh WNI, perwakilan pemerintah kita di sana, dan pengalaman saya yang terjebak di kota lain saya jadikan bentuk reportase,” dia memamparkan.

Hasil reportase itulah yang menarik minat Penerbit Gramedia. Atas dukungan rekannya di redaksi ANTARA di Jakarta dan beberapa editor buku berpengalaman, pengalaman Irfan dibukukan.

Dia berharap, tulisan dalam bukunya bisa menginspirasi orang lain tentang cara menjadi penyintas di tengah bencana.

Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, dalam kata pengantar buku tersebut mengapresiasi  karya Irfan. Menurut Djauhari, keberadaan wartawan ANTARA di Beijing dengan reportase hariannya, membuat masyarakat Indonesia terutama keluarga para WNI yang sedang berada di negara tersebut, sedikit bernapas lega.

“Saudara M. Irfan Ilmie senantiasa menyampaikan laporan kepada masyarakat Indonesia tentang situasi dan kondisi yang terjadi di Kota Wuhan dan wilayah Tiongkok dengan pengamatan langsung di lapangan dan dari sumber-sumber yang otoritatif,” kata Djauhari, dikutip dari ANTARA.

Irfan berpesan kepada teman-teman wartawan Indonesia yang saat ini masih bertugas meliput penanganan virus korona. “Tidak ada berita seharga nyawa. Pastikan keselamatan jiwa sebelum ke lapangan. Sekarang, teknologi sudah mendukung wawancara virtual. Kalau mau wawancara pasien, bisa dilakukan jarak jauh seperti konferensi video atau testimoni pengalaman mereka. Hal itu juga saya lakukan selama liputan di Wuhan,” kata Irfan. (fau)

Leave a Reply