5 Jan 2017

Breaking News Mengungkap Karakter Asli Redaksi

Hampir seluruh awak ruang redaksi berlomba-lomba menerbitkan artikel lebih cepat dari yang lain saat bom mengguncang kawasan Jalan MH Thamrin, 14 Januari 2016. Jill Geisler, seorang jurnalis senior yang menulis untuk Poynter mengatakan, karakter asli, budaya, dan kualitas ruang redaksi dapat terungkap lewat breaking news.

Menurut Geisler, produksi karya jurnalistik yang sukses terjadi dengan sistem yang spesifik, kemampuan, nilai, pola pikir, dan kepemimpinan. Dalam kultur ruang redaksi yang sehat, ketika ada breaking news, ada sejumlah hal yang dilakukan para awaknya:

Memiliki rencana
Untuk merespons peristiwa penting yang menjadi breaking news, staf redaksi tidak boleh berebut dan bekerja serampangan. Setiap orang dalam tim seharusnya sudah mengerti peran kunci masing-masing, baik di lapangan maupun di kantor. Seluruh staf secara otomatis langsung bekerja dengan tugas dan tanggung jawab mereka, serta beradaptasi dengan rencana dasar berdasarkan situasi dan isu yang akan dikembangkan.

New York Times newspaper pressroom. (Pixabay.com/janeb13)

Tidak bergantung pada bos
Para jajaran pimpinan lapis kedua dan staf redaksi memiliki kemampuan membuat keputusan sulit dan membagi tugas. Tidak ada yang mengatakan, “What would the boss do?” karena seluruh tim tahu langkah yang harus dilakukan. Setiap orang mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan memastikan tanggung jawab ada di pundak setiap orang.

Perangkat kerja dapat diandalkan
Perusahaan menginvestasikan perlengkapan penting dan perawatan pencegahan untuk memastikan seluruh perangkat kerja siap untuk digunakan dalam pekerjaan berat, setiap waktu. Tim redaksi sudah memiliki cadangan persediaan untuk energi, teknologi, dan perlengkapan lainnya.

Komunikasi sangatlah penting
Segala sesuatu memang tidak dapat berjalan sempurna, tetapi ada daftar kontak dan email terbaru, media sosial, dan akses telepon, conference call, protokol untuk briefing, dan dokumen komputer untuk membagikan setiap informasi dan sumber daya sejalan dengan isu yang terus berkembang. Staf redaksi harus meminimalisasi ketidakpedulian dan kesimpangsiuran.

screen-shot-2017-01-05-at-10-39-02-am

Memiliki pola pikir investigasi dan analisis
Setiap orang diasumsikan telah mengulas “what”. Tetapi selanjutnya, staf redaksi secara otomatis harus mendalami hingga mendapatkan jawaban atas “why?”, “what the hell?”, “what’s the bigger picture?”, dan “what next?” Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab bukan oleh mereka yang secara struktur memiliki peran dalam liputan investigasi, tetapi diharapkan dimiliki oleh seluruh awak redaksi.

Melibatkan seluruh sumber daya
Ketika sebuah peristiwa breaking news membutuhkan peran lebih banyak orang, bahkan dari departemen yang lain, seperti penjualan, olahraga, pemasaran, hingga bagian perawatan, mereka semua harus memiliki inisiatif: “Bagaimana saya dapat membantu?” Tim redaksi dapat melibatkan mereka dalam perencanaan liputan dan pengembangan isu.

Mengetahui arah pengembangan isu
Breaking news memang penuh jebakan, tetapi staf redaksi tahu bagaimana mengendalikan situasi. Karena kita memiliki nilai dalam liputan sehari-hari, tingkat stres dalam menggarap berita cepat tidak akan membuat tim redaksi menjadi bodoh.

Peduli satu sama lain
Pimpinan redaksi fokus pada kebutuhan shift, hari, dan pekan selanjutnya. Mereka tidak akan membiarkan para staf bekerja dalam kekosongan, dan tidak segan-segan menganjurkan bahkan bila perlu memerintahkan, agar staf redaksi yang sudah kelelahan untuk pulang dan beristirahat.

Redaksi meliput kemanusiaan, bukan statistik
Setiap tim redaksi harus memastikan bahwa mereka menulis cerita, bukan egoisme pribadi, memburu fakta dan bukan sensasi. Ruang redaksi mendokumentasikan sejarah. Dan ketika cerita menjadi sejarah, setiap anggota tim berpikir, bagaimana melakukan yang lebih baik di waktu mendatang. Penjelasan Geisler ini penting, agar kesalahan dan kekeliruan jurnalisme yang terjadi saat bom Thamrin tak terjadi di masa mendatang. (aks/dka)

Leave a Reply