26 Mei 2017

Mengajarkan Bahasa Indonesia ke 29 Negara

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih berupaya mengembangkan peran Bahasa Indonesia di dunia pendidikan nasional maupun internasional. Salah satunya dilakukan dengan rencana pengiriman sekitar 220 guru ke 29 negara di berbagai benua untuk mengajarkan Bahasa Indonesia.

Melalui Badan Bahasa, Kemendikbud mengincar skor Programme Internationale for Student (PISA) sebesar 414 pada 2019 yang merupakan salah satu dari sejumlah program. Untuk mencapai target itu, Kemendikbud merogoh kocek sebesar Rp151,12 miliar.

Program lain yang akan dijalankan dengan anggaran tersebut yaitu pengayaan kosakata/lema, penguatan literasi, program Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI), dan peningkatan kemampuan pendidik Bahasa Indonesia dalam mendukung peningkatan nilai mata pelajaran pada ujian nasional, terutama di 10 provinsi dengan nilai uji kompetensi guru yang masih rendah.

Salah satu ruang publik yang menggunakan bahasa asing. (Aksara Photo)

“Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara perlu dipopulerkan di kancah internasional melalui program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing),” mengutip situs resmi Kemendikbud.

Secara rinci, sasaran program pengembangan dan pembinaan bahasa yaitu 78.802 pengayaan kosakata, peningkatan tenaga pendidik bidang bahasa sebanyak 22.848 orang, UKBI 2.500 orang, pengutamaan bahasa Indonesia di media luar ruang di 514 kabupaten dan kota, serta penguatan mitra kebahasaan dan sastra sebanyak 79 lembaga.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Suhendar meminta semua kepala daerah mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Penggunaan nama gedung, fasilitas publik, hingga rambu petunjuk yang menggunakan bahasa asing harus ditertibkan.

“Pengutamaan bahasa negara merupakan bagian dari literasi kewarganegaraan sepanjang hayat,” kata Dadang, mengutip siaran pers Kemendikbud, 10 Mei 2017.

Karena itu, Dadang mengapresiasi sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mengubah penyebutan “Proyek Semanggi Interchange” menjadi “Proyek Simpang Susun Semanggi”.

Hari itu juga, dilakukan deklarasi pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia yang diikuti 1.500 orang, terdiri dari warga sekolah, aparat pemerintah, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Deklarasi yang dibacakan yaitu tetap setia dan bangga mengutamakan penggunaan bahasa negara, bahasa Indonesia, di ruang publik; ikut serta menjaga kelestarian bahasa daerah sebagai pendukung kukuhnya bahasa negara; dan siap menertibkan penggunaan bahasa asing demi kemajuan bahasa negara.

Merujuk jurnal Universitas Negeri Jakarta yang terbit 31 Desember 2016, saat ini dampak penggunaan bahasa asing merambah dari skala kecil sampai skala besar. Seperti penggunaan kata laundry, bakery, catering, tailor, travel, service, electronic, Jakabaring Sport Center, dan lainnya, yang jika menggunakan Bahasa Indonesia, tidak mengurangi nilai estetika.

Perbincangan soal bahasa Indonesia akan selalu menarik karena merupakan alat komunikasi yang digunakan sehari-hari.

Alif Danya Munsyi, dalam Prawacana bukunya berjudul Bahasa Menunjukkan Bangsa mengatakan hal berikut ini:

Kita semua tahu, ‘momok’ dalam bahasa Indonesia adalah ‘hantu’ untuk menakut-nakuti.

Tetapi di Sulawesi Utara, orang Sangir mengartikan ‘momok’ sebagai panggilan kesayangan bagi anak perempuan. Di Maluku Tenggara, orang mengartikan ‘momok’ sebagai laut yang dalam dan indah. Dan di Jawa Barat, orang Sunda mengartikan ‘momok’ sebagai kemaluan perempuan dewasa.

Bayangkan, satu lema, yaitu ‘momok’, punya arti yang berbeda-beda di antara penduduk Nusantara ini. Maka, seandainya tidak ada Sumpah Pemuda, gara-gara bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa administratif oleh penjajah Belanda, boleh jadi kita berselisih soal bahasa. (aks/dka)

Leave a Reply