31 Mei 2017

Bilangan dalam Wacana Tertulis

Bilangan itu apa, ya? Apakah sama artinya dengan angka?

Tidak sama.

Bilangan menyatakan satuan jumlah, baik yang bisa disentuh—misalnya jumlah lemari, buku, buah—maupun abstrak—misalnya harga. Bilangan bisa dituliskan lewat angka atau huruf.

Oh, begitu. Baiklah.

Lalu, mana saja bilangan yang bisa dituliskan lewat angka? Mana pula yang mesti ditulis berupa huruf?

Ke sini saja dulu, yuk. Ke Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia No. 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Oke.

Tautan sudah diklik? Fail sudah diunduh? Kalau sudah, ayo sama-sama menengok halaman 20. Isinya begini:

Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan, lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000)

Sudah?

Ilustrasi. (Pexels.com)

Lalu ke sini.

  1. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau paparan.

Contoh:

Pemain belakang kesebelasan itu sudah dua kali melakukan pelanggaran.

Tiap tahun, sekitar dua juta kupu-kupu bermigrasi ke kawasan Pegunungan Michoacan, Meksiko.

Di antara 90 anggota yang hadi, sebanyak 40 orang menyatakan setuju,32 orang tidak setuju dan 18 orang tidak memberikan suara.

  1. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika lebih dari dua kata, susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat ditulis dengan huruf itu tidak ada pada awal kalimat.

Misalnya:

Enam puluh siswa kelas 9 tercatat lulus ujian.

Panitia mengundang 250 pegiat ekonomi dari pelbagai daerah.

Bukan:

250 pegiat ekonomi dari pelbagai daerah turut diundang panitia.

  1. Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya (contoh-contoh selanjutnya merupakan salinan dari peraturan terkait):

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.

Dia mendapatkan bantuan Rp250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.

Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

  1. Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.

Misalnya:

0,5 sentimeter

tahun 1928

5 kilogram

17 Agustus 1945

4 meter persegi

1 jam 20 menit

10 liter

pukul 15.00

10 persen

US$ 3,50*

27 orang

2.000 rupiah

Catatan:

(1) Tanda titik pada contoh bertanda bintang (*) merupakan tanda desimal.

(2) Penulisan lambang mata uang, seperti Rp, US$, £, dan ¥ tidak diakhiri dengan tanda titik dan tidak ada spasi antara lambang itu dan angka yang mengikutinya, kecuali di dalam tabel.

  1. Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15

Jalan Wijaya No. 14

Apartemen No. 5

Hotel Mahameru, Kamar 169

6. Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

Markus 2:

7. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

Pada awal abad XX (angka Romawi kapital)

Dalam kehidupan pada abad ke-20 ini (huruf dan angka Arab)

Pada awal abad kedua puluh (huruf)

8. Penulisan bilangan yang mendapat akhiran -an 

Misalnya:

lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)

tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)

uang 5.000-an (uang lima-ribuan)

9. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks (kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi).

Misalnya:

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Rumah itu dijual dengan harga Rp125.000.000,00.

Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).

Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

Dia membeli uang dolar Amerika Serikat sebanyak $5,000.00 (lima ribu dolar).

Catatan:

(1) Angka Romawi tidak digunakan untuk menyatakan jumlah.

(2) Angka Romawi digunakan untuk menyatakan penomoran bab (dalam terbitan atau produk perundang-undangan) dan nomor jalan.

(3) Angka Romawi kecil digunakan untuk penomoran halaman sebelum Bab I dalam naskah dan buku.

Leave a Reply