14 Sep 2017

Eksperimen Pewarta Foto Menarik Pembaca: Live Journalism

Ketimbang mengandalkan pembaca yang terpaku pada artikel sementara device mengalami kelebihan informasi dan pilihan, perusahaan media di seluruh dunia mulai bereksperimen dalam menyampaikan konten. Mereka memasuki: live journalism.

Cara ini dilakukan untuk membuat pembaca lebih fokus, menarik mereka mengonsumsi konten, dan mendatangkan pendapatan ekstra bagi para pewarta foto maupun perusahaan media. Untuk jurnalis foto, live journalism menyajikan cara alternatif dalam mempresentasikan foto-foto mereka.

International Journalist Network (IJNet) berbicara dengan Florence Martin-Kessler, co-founder and pemimpin redaksi Live Magazine, tentang pergerakan live journalism yang berkembang—terutama terkait jurnalisme foto. Berbasis di Paris, Live Magazine telah menarik perhatian internasional ketika live dengan format cerita hanya satu malam.

Ilustrasi arsip foto. (Pixabay Photo)

Dalam format tersebut, pewarta foto berada di atas panggung, mempresentasikan karya asli mereka, dan menceritakan foto yang tidak diterbitkan di media. Kemampuan menunjukkan karya foto yang tidak dapat dipublikasikan di media memang menjadi salah satu kesempatan menarik yang mungkin hanya dapat dilakukan melalui live journalism.

Pada kesempatan tersebut, beberapa pewarta foto dapat memperlihatkan fakta dari ribuan foto yang tidak tepat diterbitkan di media mereka karena mengandung konten tertentu.

“Suatu ketika kami mengundang Jerome Delay, pimpinan fotografer AP (Associated Press), berbasis di Johannesburg,” kata Martin-Kessler. “Delay mampu menceritakan sebuah grafis dan cerita kekerasan tentang hukuman mati di Republik Afrika Tengah. Beberapa foto tidak dapat dipublikasikan di media tradisional karena menunjukkan kekerasan dan kematian. Fakta bahwa Anda berada di sebuah ruangan dengan pewarta foto tersebut menjadikannya mungkin menunjukkan karya yang tidak dapat diperlihatkan di media cetak maupun media daring.”

Dengan jumlah pewarta foto yang masih memiliki banyak foto, mereka perlu mempertimbangkan untuk membuat program live journalism hanya bermodalkan fotografi. Bagaimana pun, perpaduan fotografi, teks, dan cerita interaktif biasanya lebih ideal, kata Martin-Kessler.

“Pada akhir tahun ini, kami akan mengadakan 28 pertunjukkan umum dan lebih dari 250 cerita,” ujar Martin-Kessler. “Mungkin 25 di antaranya adalah cerita pewarta foto, lebih banyak cerita memiliki karya foto, sehingga narasi visual adalah bagian penting yang kami lakukan. Dalam setiap penampilan, sedikitnya satu pewarta foto menjelaskan di atas panggung, dengan slideshow maupun dalam bentuk visual storytelling.”

Foto jurnalistik sudah memiliki daya tarik visual. Martin-Kessler mencatat betapa sulit membuat foto jurnalistik menjadi lebih interaktif, sebagaimana sesi foto jurnalistik terlibat lebih mendalam.

“Kami mencoba mengeksplor cara berbeda dalam narasi: slideshow dengan live music, foto-foto, perpaduan kata dan gambar, suara dan gambar, atau after effect edit,” tutur Martin-Kessler.

Menurut Martin-Kessler, still images cenderung lebih cocok untuk live journalism ketimbang konten video.

Ilustrasi. (Pixabay Photo)

Pendapatan terbesar dari live journalism datang dari penjualan tiket; porsi besar lainnya datang dari sponsor atau advertorial. Pada bulan ini, Live Magazine berharap untuk menampilkan enam cerita foto jurnalis di Visa pour l’Image-Perpignan.

Di Indonesia, Harian Kompas pernah melakukan hal serupa pada 6-12 Januari 2017, dengan menggelar Festival Fotografi Kompas (FFK) bertajuk “Unpublished”. Berbagai foto yang belum pernah dipublikasikan, dipajang dalam pameran dengan total 100 foto hasil kurasi Jay Subyakto dan John Suryaatmadja.

Mengutip Kompascom, foto yang dipamerkan berasal dari buku dengan judul yang sama, yang telah lebih dulu diterbitkan. Buku “Unpublished” berisi 560 foto karya 22 pewarta foto Kompas sejak tahun 1965.

Sejak tahun 1965, Kompas memiliki sekitar dua juta foto dalam bentuk analog, yang seluruhnya sedang dalam proses digitalisasi.

“Hampir dua juta foto kami digitalisasikan agar peristiwa sejarahnya dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo. (rdk/aks)

Leave a Reply