3 Sep 2019

Jurnalis Dianggap Bertanggung Jawab Atasi Hoaks

Para pemimpin politik dan aktivis disalahkan dalam memproduksi berita karangan atau informasi palsu yang tujuannya untuk menyesatkan publik. Namun, wartawan dianggap sebagai profesi yang paling utama bertanggung jawab atas beredarnya informasi palsu tersebut.

Demikian hasil survei Pew Research Center terhadap 6.127 responden Amerika Serikat berusia dewasa. Survei dilakukan pada 19 Februari hingga 4 Maret 2019.

Sekitar enam dari 10 responden [57%] mengatakan, pemimpin politik dan staf mereka menciptakan banyak sekali berita karangan, dan 53 persen mengatakan hal yang sama terkait kelompok aktivis.

Even though Americans do not see journalists as a leading contributor of made-up news and information, 53% think they have the greatest responsibility to reduce it — far more than those who say the onus mostly falls on the government [12%] or technology companies [9%],” mengutip journalism.og.

Responden mengatakan, berita rekaan merupakan masalah besar di AS lebih daripada persoalan terorisme, imigran ilegal, rasisme, dan seksisme. Kabar bohong juga berimbas sangat besar terhadap kepercayaan warga Amerika terhadap instansi pemerintah.

Sumber: Pixabay

“The vast majority of Americans say they sometimes or often encounter made-up news. In response, many have altered their news consumption habits, including by fact-checking the news they get and changing the sources they turn to for news.”

Terkait dengan cek fakta, media-media di Indonesia telah melakukan pekerjaan tersebut. Tirto.id misalnya yang memproduksi konten periksa fakta. Di lamannya, Tirto menjelaskan bahwa “Periksa Fakta” merupakan kumpulan berita dan analisis yang menyajikan data dan fakta sebenarnya, sebagai pembanding dari pernyataan yang disampaikan.

Grup Tempo juga memiliki konten cek fakta. Akhir tahun 2018, Tempo bahkan membuat akun Instagram khusus yang isinya berupa cek fakta @tempo.cekfakta. Pada unggahan perdananya, akun tersebut menulis, “Selain membagikan artikel-artikel dalam kanal cekfakta, akun ini juga akan memberi pengetahuan soal apa saja yang berkaitan dengan hoaks dan misinformasi.”

Tempo telah mendapatkan sertifikasi dari jaringan Internasional Pemeriksa Fakta Independen [IFCN], selain juga bermitra dengan Facebook. Situs jejaring sosial Facebook memang melibatkan sejumlah media dalam program third-party-fact-checking di Indonesia. Selain Tempo dan Tirto, Liputan6.com dan AFP. [dka]

Leave a Reply