17 Sep 2019

Riset: Jurnalisme Sering Gagal Dapatkan Kepercayaan Publik

Ada lima temuan penting yang terungkap dari hasil riset Reuters Institute tentang masa depan jurnalisme. Salah satunya adalah bahwa jurnalisme sering kali kalah dalam pertarungan meraih perhatian publik, dan bahkan di sejumlah negara, gagal mendapatkan kepercayaan publik.

Tersegmentasi berdasarkan minat dan frekuensi mereka mengakses berita, responden yang mengakses berita lebih dari lima kali sehari hanya 17% [news lovers], sebanyak 48% mengakses berita sedikitnya sekali sehari [daily briefers], dan 35% tidak tertarik sama sekali dan mengakses kurang dari sekali sehari [casual users].

“Hal ini bukan hanya terkait dengan kompetisi memperebutkan perhatian. Tetapi juga merefleksikan bahwa banyak orang mempertanyakan apakah jurnalisme menolong mereka dalam menjalani kehidupan, dan bahwa sejumlah orang di banyak negara meragukan kepercayaan mereka terhadap berita,” mengutip laporan Reuters Institute.

 

Ilustrasi. New York Times Newsroom (Sumber: Pixabay)

Riset tersebut dipublikasikan pada Januari 2019 dengan tajuk “More Important, But Less Robust? Five Things Everybody Needs to Know about the Future of Journalism”. Riset dilakukan pada 2018 untuk the Study of Journalism di University of Oxford.

Empat temuan lain dalam riset yang dilakukan oleh Rasmus Kleis Nielsen dan Meera Selva yaitu, [1] organisasi media saat ini memang masih menjadi pengawal isu dan membuat agenda, tetapi perusahaan aplikasilah yang mengendalikan akses informasi ke audiens. [2] Perpindahan ke media digital membuat publik memiliki sumber informasi yang benar-benar semakin beragam.

[3] Model bisnis yang mendanai organisasi berita mendapatkan tantangan yang bisa melemahkan jurnalisme profesional dan membuat media berita lebih rentan terhadap tekanan komersial dan politik. [4] Artikel berita saat ini lebih beragam dibanding sebelumnya, dan praktik jurnalisme dalam banyak hal juga jauh lebih baik dibanding sebelumnya. (dka)

 

Leave a Reply