5 Okt 2019

Hari Pertama Literasi: Peserta Kritis soal Etika Jurnalistik

Etika jurnalistik dan bahasa Indonesia jurnalistik menjadi materi pertama dalam Kelas Literasi Media Angkatan VI yang diselenggarakan Aksara Institute hari ini, Sabtu (5/10), di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Pada hari pertama literasi tersebut, para peserta Kelas Literasi yang datang dari berbagai latar belakang sangat antusias dan kritis terhadap isu-isu etika jurnalistik.

Sejumlah peserta tanpa ragu langsung mengangkat tangan ketika masuk sesi tanya jawab. Dari satu pertanyaan ke persoalan lain. Salah satu pertanyaan kritis yang dilontarkan salah seorang peserta adalah: kalau ada komplain yang disampaikan narasumber, apakah Dewan Pers tidak ikut berperan menyelesaikan persoalan itu?

 

Hari pertama Kelas Literasi Media Angkatan VI, Sabtu (5/10/2019), di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. (Foto: Aksara Institute)

Pertanyaan lain: mengapa media harus memiliki pedoman maupun standar etik jurnalistik sendiri sementara sudah ada Kode Etik Jurnalistik, pedoman media siber, dan sejenisnya?

Kalau Aksara memiliki media sendiri, apa yang akan dilakukan dalam hal independensi? Sementara kita tahu bahwa independensi di media adalah sesuatu yang tidak mungkin?

Bagaimana dengan pemilihan kata dalam penulisan berita-berita gender, seperti penggunaan kata “cantik” yang dalam beberapa kesempatan menuai kritik?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu disampaikan oleh pemateri hari itu, Rosmiyati Dewi Kandi yang juga pendiri Aksara Institute, dan Herita Endriana, rekan pendiri Aksara. Dalam hal pelibatan Dewan Pers ketika terjadi komplain misalnya, kata Kandi, tak jarang narasumber komplain dengan mengirimkan surat somasi ke kantor redaksi media, bukan ke Dewan Pers.

“Redaksi media juga tidak setiap saat memiliki energi untuk menanggapi komplain. Jadi agar cepat selesai, permintaan narasumber terkait artikel berita yang diprotes, langsung dituruti. Termasuk jika harus meminta maaf dan meralat berita,” kata Kandi, Sabtu (5/10).

Hari pertama literasi dihadiri oleh 37 dari 40 orang yang telah terdaftar sebagai peserta. Antusiasme peserta terhadap materi etika dan bahasa yang disampaikan Kandi dan Herita membuat waktu 2,5 jam rasanya masih kurang.

Pada materi etika, Kandi menekankan empat isu. Pertama, loyalitas jurnalisme, keharusan melakukan verifikasi, independensi, dan isu ruang kritik bagi publik. “Semua orang sekarang bisa memberikan informasi kepada publik melalui media sosial. Karena itulah verifikasi menjadi pembeda kerja wartawan dengan warga,” ujar Kandi.

Penasaran dengan materi selanjutnya? Sampai jumpa di Kelas pekan depan!

Tertarik membuat Kelas sejenis di komunitas kamu? Hubungi kami di aksarainstitute@gmail.com atau info@aksarainstitute.com.

Penulis: Siti Masruroh
Penyunting: Aksara Institute

Leave a Reply