24 Okt 2019

Penulisan Berita: Sudut Pandang Dulu, Menulis Kemudian

Punya banyak data dan hasil wawancara kadang malah membuat jurnalis bingung bagaimana memulai menulis berita. Mungkin penyebabnya ada pada pemilihan sudut pandang (angle).

Kelas Literasi Media (KLM) Angkatan VI kembali berlanjut pada Sabtu (19/10) di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta Selatan. Setelah membahas soal etika dan bahasa jurnalistik serta jurnalisme data, para pertemuan ketiga ini giliran soal penulisan berita yang dibahas.


Kerap terjadi, wartawan, atau penulis pemula, kebingungan saat akan menulis berita. Bagaimana mencari judul? Data yang mana yang mesti didahulukan? Saat menulis breaking news, hal ini tentu bukanlah persoalan sulit. Tapi saat menulis hard news, soft news, apalagi feature, ini bisa menjadi persoalan.

Ilustrasi foto: Pixabay

Dalam pertemuan ketiga yang dipandu oleh Herita Endriana, wartawan Koran Sindo dan Sindonews, dibeberkan beberapa langkah agar menulis berita bisa lebih mudah. Yang pertama, tentunya dengan terlebih dahulu mengenali perbedaan antara straight news (hard news dan soft news) serta feature. Ini diperlukan karena kedua jenis berita ini punya metode atau rumus penulisan yang berbeda.

Dalam straight news, rumus penulisannya adalah piramida terbalik, yaitu menempatkan fakta terpenting di posisi atas. Sementara fakta yang tidak terlalu penting di posisi paling bawah tulisan. Sementara rumus feature lebih fleksibel, dengan pokok tulisan justru berada di tengah atau bahkan akhir tulisan.

Lantas, bagaimana menentukan fakta mana yang penting dan mana yang tidak terlalu penting? Semuanya bergantung pada sudut pandang yang penulis pilih, yang tentunya juga menentukan judul apa yang akan dipakainya.

Herita lalu mencontohkan soal menulis berita tentang sebuah acara festival film. Dalam konferensi pers, diberikan informasi tentang film-film pemenang penghargaan yang akan diputar, aktris internasional yang akan hadir dalam acara pembukaan, serta ketentuan menonton film tersebut.

Nah, wartawan bisa memilih fakta mana yang akan ditonjolkan untuk dijadikan judul dan dibahas lebih dulu dibanding fakta yang lain. Apakah tentang aktris terkenal yang akan datang, atau film-film yang akan diputar.

Dalam penulisan feature, menentukan sudut pandang penulisan juga diperlukan agar penulis bisa membuang fakta-fakta yang tidak mendukung angle yang sudah dipilih, agar tulisan tetap terasa padat, mendalam, dan tidak ‘lari’ ke mana-mana.

Selain itu, dalam menulis pun dibutuhkan keterampilan mengatur ritme tulisan. Salah satunya dengan penggunaan kutipan. Salah satu peserta sempat bertanya, apakah kutipan langsung dari narasumber bisa diubah kata-katanya.

Pemateri pun menjelaskan, bahwa selama tidak mengubah makna ucapan narasumber dan tujuan utamanya untuk mempermudah pembaca memahami perkataan narasumber, maka hal tersebut bisa dilakukan. Pengubahan pun hanya terkait urusan tata bahasa saja.

“Kalau takut salah mengutip, tak ada salahnya mengonfirmasi kembali maksud atau inti dari perkataan si narasumber,” ujar Herita.

KLM Angkatan VI akan terus berlanjut tiap Sabtu dengan materi-materi menarik lainnya.

Tertarik membuat Kelas sejenis di komunitas kamu? Hubungi kami di aksarainstitute@gmail.com atau info@aksarainstitute.org

 

Penyunting: Aksara Institute

Leave a Reply