25 Mei 2017

Verifikasi: ‘Perjalanan Perang Dramatis’ bagi Wartawan

The essence of journalism is a discipline of verification”. Nyawa sebuah kerja jurnalistik ada pada kedisiplinan melakukan verifikasi.

Begitulah ujaran terkenal yang ditulis wartawan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect.

Mayoritas jurnalis sependapat dengan Kovach dan Rosenstiel. Segelintir lain menganggap verifikasi menjadi satu bagian penting, tapi bukan yang utama. Namun semua sepakat, tanpa verifikasi, tulisan jurnalistik hanya menjadi kabar burung atau dongeng belaka.

Sudah terlalu banyak informasi palsu (hoax) yang beredar di masyarakat di semua belahan dunia. Terutama setelah teknologi mempersembahkan beragam kemudahan bagi publik untuk berbagi informasi lewat jejaring sosial.

Jurnalis bukan hanya tidak boleh menulis informasi palsu, tetapi harus menjadi profesi yang bertanggung jawab untuk memverifikasi informasi. Begitu vital verifikasi dalam kerja jurnalistik, empat peneliti melakukan reiset atas pandangan dan praktik verifikasi pada jurnalis bertajuk “Images of Essence: Journalists’ Discourse on the Professional ‘Discipline of Verification”.

Kajian yang diterbitkan dalam jurnal, dan dimuat di Canadian Journal of Communication volume 41 tahun 2016 tersebut dilakukan oleh empat peneliti, Ivor Shapiro (Ryerson University), Colette Brin (Universite Laval), Philippa Spoel (Laurentian University), dan Lee Marshall (Ryerson University).

Dalam risetnya, mereka menjadikan 14 wartawan surat kabar di Kanada sebagai responden, yang dipilih secara acak, terdiri dari para pemenang penghargaan.

Ilustrasi. (Pixabay.com/geralt)

Pada proses awal, 14 wartawan diminta menjawab lima pertanyaan pendahuluan, lalu diarahkan membaca berita dan feature utama surat kabar Toronto Star, The Globe and Mail, The Gazette, dan Ottawa Citizen. Lima pertanyaan lanjutan diajukan setelah itu.

Dikutip dari cjc-online.ca, lima pertanyaan pendahuluan yaitu: arti verifikasi bagi jurnalis atau diri Anda; apakah Anda memiliki pendekatan umum untuk menangkap informasi dalam sebuah wawancara; bagaimana memverifikasi nama orang, nama tempat, tanggal, waktu, dan usia.

Sedangkan pertanyaan lanjutan adalah: adakah bagian dari wawancara ini yang membuat Anda memiliki pemikiran atau pendapat baru tentang proses verifikasi; apa hal umum dan berbeda dari tulisan ini dengan tulisan yang pernah Anda buat, dilihat dari proses untuk memastikan akurasi; seberapa sering Anda menunjukkan hasil tulisan kepada narasumber sebelum diterbitkan; apakah Anda setuju dikatakan bahwa esensi jurnalisme adalah disiplin pada verifikasi; dan adakah saran untuk wawancara dan penelitian kami berikutnya?

Dari jawaban itu, disimpulkan ada empat hal utama yang menonjol dalam wacana tentang proses verifikasi versi responden.

Perjalanan

Responden menggunakan istilah yang berhubungan dengan perjalanan ketika menggambarkan praktik verifikasi. Beberapa menyebut “first pass through”, “going with the flow”, atau “way more on the go now”.

Hasil wawancara menekankan, verifikasi sebagai proses bolik-balik atau maju mundur. Kadang harus mengecek fakta yang terjadi belakangan, kadang harus mencari tahu fakta berikutnya.

Verifikasi juga disebut berlapis karena harus mengecek inti persoalan sebelum menemukan kebenaran. Yang lain menyebut verifikasi kadang menjadi pilihan ke jalan sunyi karena memilih menelusuri fakta yang tidak banyak dipilih orang lain.

Namun ada responden yang memandang verifikasi secara lebih sederhana: sebagai timeline atau kronologi. Berpegang pada kronologi peristiwa, pengecekan kebenaran dilakukan berdasar urutan fakt, karena tanpa urutan yang benar, laporan jurnalistik hanyalah omong kosong.

Verifikasi adalah proses perjalanan tak terduga. Kadang membawa mereka ingin mundur jauh ke belakang, menelusuri sejarah. Kadang mengajak ke perjalanan yang jauh lebih dalam dan berbeda dari tujuan awal.

Senjata

Yang paling ditakutkan responden adalah seseorang menemukan ‘lubang’ atau ‘cacat’ dalam fakta—yang merupakan kiamat bagi wartawan karena akan menghancurkan kredibilitas.

Saat laporan dipublikasikan, beragam respons pembaca berdatangan. Bisa lebih sengit, termasuk tuntutan hukum, jika yang diberitakan sangatlah sensitif.

Demi membela diri, responden merasa perlu menyiapkan bukti akurat: rekaman wawancara narasumber hingga dokumen pendukung. Hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan harus dibuang dari tulisan agar tidak menjadi peluru bagi wartawan.

Bukan hanya dari luar, kecerobohan dan pertentangan sebenarnya juga bisa datang dari editor yang salah mengeja nama atau malah menghalangi reporter mencari kebenaran lebih lanjut. Caranya beragam, termasuk memberi banyak pekerjaan lain. Saat itulah reporter dituntut siap ‘berperang’.

Melihat, Baru Percaya

Bukti yang bisa dilihat adalah segalanya. Dalam hal ini, responden menyebut dokumen penting sebagai senjata ampuh dalam verifikasi, meski observasi langsung juga menjadi elemen yang sama penting.

Observasi dinilai memberi warna dan mampu menjelaskan yang sesungguhnya terjadi di balik dokumen ‘hitam putih’. Melihat langsung bukan hanya secara harfiah, tapi juga kemampuan melihat peristiwa dari sudut pandang berbeda.

Sang Pencerita

Dari ketiga elemen di atas, responden kadang memiliki pandangan yang agak berbeda. Namun semua sependapat pada satu hal: wartawan adalah seorang pencerita.

Responden mengatakan, saat menulis, mereka seperti tengah berkisah, menciptakan scene, dan menyunting layaknya sedang menciptakan program televisi atau membuat film. Diperlukan kreativitas dalam melakukannya, karena inilah yang membedakan tulisan wartawan dengan ensiklopedia, jurnal ilmiah, atau surat pengacara yang membosankan.

Dalam menulis, responden menciptakan alur dramatis, membawa pembaca masuk dalam ‘sebuah dunia’, meski tetap sesuai fakta.

Perihal “the essence of journalism is a discipline of verification”, para responden memilih memodifikasinya. Sebagian menyandingkan verifikasi dengan sifat “skeptis”, yang lain dengan “rasa ingin tahu”, atau “berkisah”.

Namun ada juga responden yang menganggap, nyawa dari kerja jurnalistik bukanlah verifikasi, melainkan “rasa penasaran”. (aks/ita)

Leave a Reply