7 Sep 2017

‘Menerawang’ Tren Informasi Sesat di Masa Depan

Juli lalu, sekelompok peneliti dari Amerika Serikat membuat kejutan. Mereka merilis sebuah video berisi pidato mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama yang belum pernah beredar sebelumnya.

Kejutan ada pada kenyataan bahwa pernyataan Obama dalam video tersebut ternyata palsu, dan dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Untuk membuat video tersebut, para peneliti dari Universitas Washington itu menggunakan perangkat yang mampu mengubah gerakan mulut dalam video. Untuk melakukannya, perangkat tersebut harus bermodalkan kumpulan suara Obama terlebih dahulu. Dari situ, suara diolah dan dianalisis hingga perangkat mampu menciptakan gerakan-gerakan mulut baru.

Gerakan baru itulah yang lalu dimasukkan ke video yang ada. Hasil akhirnya jadi mirip video seseorang yang sedang melakukan lip sync.

Ilustrasi video. (Pexels Photo)

Selain membuat kagum, hasil video tersebut juga menimbulkan kekhawatiran. Apakah teknologi ini menjadi semacam gambaran dari produksi berita palsu di masa mendatang?

Keresahan yang sama dirasakan Wikimedia, organisasi yang fokus pada penyebaran informasi secara gratis. Sebagai bagian dari strategi penyebaran informasi mereka tahun 2030, Wikimedia bekerja sama dengan para peneliti dari Lutman and Associates dan Dot Connector Studio.

Mereka mengkaji lebih dari seribu laporan, artikel, dan penelitian untuk menemukan pola atau cara memproduksi informasi sesat dan propaganda, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap kebebasan memperoleh informasi.

Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan tren dalam pembuatan informasi sesat. Analisis tren dibagi dalam dua kelompok yaitu konten dan akses. Konten mengacu pada tren yang akan memengaruhi Wikimedia dan Wikipedia dalam menyajikan informasi yang kredibel. Sedangkan akses menyorot pada cara masyarakat mengakses informasi, dan apakah akses tersebut tersedia atau tidak.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

TREN INFORMASI SESAT
BIDANG KONTEN AKSES
TEKNOLOGI Produksi informasi melalui media baru, seperti AI, bot, big data, realitas maya (virtual reality), dan manipulasi media. Penyebaran melalui media baru, seperti wearable, immersive experience dan asisten pribadi berbasis suara.
PEMERINTAHAN/POLITIK Menyebarkan informasi sesat, menekan media massa atau akademisi/peneliti. Menyensor atau menutup medium penyedia informasi gratis seperti Wikimedia dan sumber sejenis, menutup sepenuhnya akses daring, mengawasi penggunaan internet.

 

PERDAGANGAN Penelitian berbayar, iklan, penganjur berbayar, clickbait. Filter bubbles, kepemilikan atas berbagai perangkat dan platform.

Beberapa poin yang tertera dalam grafis sebenarnya sudah terjadi, dan akan terus berevolusi di masa mendatang. Contohnya video pidato Obama buatan AI. Pembuatan video dilakukan setelah perangkat mempelajari gerakan mulut Obama pada banyak video, selama 17 jam.

Di masa depan, peneliti mengklaim, perangkat tersebut bisa melakukannya hanya dalam waktu satu jam.

Penyebaran konten teknologi ini juga sudah didukung oleh keberadaan perangkat canggih seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Tak hanya itu, superkomputer yang disebut-sebut akan mengalahkan kecerdasan manusia juga diperkirakan akan hadir sekitar tahun 2020-2060.

Bahkan, big data—sebuah tempat penyimpanan data yang tak terbatas dan mampu mengakses serta menganalisis berbagai jenis data dengan cepat—juga akan sangat membantu dalam menyimpan sekaligus menyebarkan informasi kepada masyarakat.

Adapun filter bubbles juga harus makin diwaspadai.

Filter bubbles adalah cara kerja algoritma di mesin pencari atau media sosial yang membuat si pencari akan lebih banyak melihat informasi yang sejalan dengan pendapatnya saja (algoritma bekerja dengan melihat sejarah atau history pencarian dan akun yang sering di-like si pengguna). Filter bubbles adalah contoh nyata dari ujaran “seseorang hanya akan mendengar apa yang ingin didengarnya”.

Strategi Penangkalan

Lantas bagaimana cara menangkal serbuan informasi sesat? Beberapa pihak sudah menyiapkan strategi.

Misal Wikimedia ingin merangkul berbagai eksperimen yang melibatkan AI untuk memperkaya konten Wikipedia. Mereka juga akan melakukan perubahan teknis jika diperlukan.

Menyangkut media massa, mereka akan memantau perkembangan jurnalisme, juga akademisi, untuk memperbarui cara-cara verifikasi informasi yang bisa mereka gunakan untuk Wikimedia. Mereka juga siap memberikan bantuan hukum demi kebebasan pers.

Terakhir, Wikimedia juga akan mempertimbangkan solusi yang dikembangkan oleh platform dan publikasi komersial, demi menerapkan metode verifikasi konten yang lebih akurat di Wikimedia. Mereka membuka peluang untuk meningkatkan akses ke konten tersebut.

Sementara itu, Facebook sudah lebih dulu bergerak dengan menghilangkan fitur modifikasi preview link pada Juni lalu. Fitur ini awalnya bisa membuat pengguna nonpenerbit untuk mengubah judul, caption, hingga foto demi mendulang trafik atau kunjungan dari pengguna lain sebelum membagikannya.

Strategi ini kerap dipakai untuk menjebak pengguna lain agar membuka sebuah laman karena judulnya menarik. Namun ketika dibuka, konten berbeda dengan judul.

Sementara, ilmuwan sosial Polandia Konrad Niklewicz, dalam sebuah makalah untuk Wilfried Martens Centre for European Studies, mengajukan metode yang cukup ekstrem untuk memerangi berita palsu. Niklewicz menganjurkan agar media sosial harus diperlakukan seperti situs berita. Menurutnya, undang-undang pers Eropa yang berlaku harus juga diterapkan pada mereka.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat luas sebagai pengunyah informasi? Anda mungkin bisa terlebih dahulu mengukur seberapa lihai Anda “mencium” informasi palsu, dengan cara mengikuti kuis foto dari Washington Post di sini. (aks/ita)

Leave a Reply