27 Jan 2016

Jusuf Ronodipuro, Lantang Menyiar Proklamasi

Kepergian Presiden Indonesia ke-2 Soeharto, hari ini, 27 Januari, tahun 2008 menyedot perhatian publik. Semua media massa di Indonesia, tanpa terkecuali, mengirimkan setidaknya dua jurnalis untuk meliput di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, selama sekitar 24 hari Soeharto dirawat.

Publik hampir luput, ada satu tokoh penting penyiar gelora perjuangan dan berita proklamasi, yang juga berpulang hari itu, sekitar 10 jam setelah Soeharto wafat. Jusuf Ronodipuro namanya. Jusuf adalah wartawan yang bekerja untuk radio militer Jepang di Jakarta, Hoso Kyoku.

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat atas Jepang berdampak signifikan terhadap pendudukan Jepang di Indonesia. Bom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 membuat Jepang menyerah tanpa syarat, kekuatan mereka berkurang termasuk di tanah jajahan mereka saat itu, Indonesia.

Jusuf Ronodipuro. (Foto: LP3ES)

Jusuf Ronodipuro. (Dok. LP3ES)

Soekarno, atas nama bangsa Indonesia, membacakan proklamasi kemerdekaan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur 56. Selain keterbatasan sarana informasi, proklamasi belum banyak didengar publik karena sisa-sisa kekuatan Jepang masih menguasai objek vital Indonesia, termasuk penguasaan terhadap perangkat media komunikasi.

Jusuf adalah salah satu anak negeri yang tidak mendengar proklamasi dibacakan Bung Karno pagi itu. Hal ini karena Jusuf bersama seluruh staf Hoso Kyoku tidak diizinkan keluar masuk stasiun radio tersebut sejak hari Rabu.

Hingga salah seorang rekan dari Kantor Berita Domei, Syahruddin, muncul di Kantor Hoso Kyoku, menemui Jusuf dan mengangsurkan secarik kertas berisi pesan pendek. Syahrudin berhasil masuk ke Hoso Kyoku di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 setelah meloncat dari tembok belakang kantor. Saat itu, Hoso Kyoku dijaga ketat Kempetai, polisi militer Tentara Kekaisaran Jepang.

Syahruddin menyerahkan kertas berisi pesan dari Adam Malik, wartawan yang belakangan menduduki jabatan Wakil Presiden Indonesia ke-3, berbunyi: harap berita terlampir disiarkan.

Jusuf bersemangat. Berita terlampir dimaksud adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dia ingin segera menyiarkan kemerdekaan Indonesia namun seluruh ruang studio Hoso Kyoku dijaga kempetai.

Jusuf lantas berunding dengan sejumlah rekannya di kantor itu, termasuk Bachtiar Lubis, kakak kandung jurnalis dan sastrawan Mochtar Lubis.

Saat itu, hanya studio siaran mancanegara yang luput dari penjagaan kempetai karena sudah tak digunakan. Dengan bantuan bagian teknis radio, studio yang tidak lagi tersambung pemancar itu diakali sehingga kabel pemancar siaran dalam negeri tersambung dengan pemancar mancanegara.

Malam tanggal 17 Agustus pukul 19.00, Jusuf membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia lewat siaran mancanegara ke seluruh dunia. Pemuda berusia 26 tahun itu juga membacakan naskah proklamasi dalam bahasa Inggris sekitar 20 menit kemudian. Siaran berbahasa Inggris diterima radio BBC London dan radio Amerika Serikat.

Tindakan berani Jusuf menyiarkan proklamasi kemerdekaan membuat berang Kempetai. Seluruh staf Hoso Kyoku yang terlibat dalam siaran tersebut ditangkap dan dipukuli. Siksaan itu meninggalkan jejak, lutut kiri Jusuf cacat setelah diinjak sepatu lars tentara.

Cikal Bakal RRI

Meski mendapat siksaan, aksi Jusuf tak berhenti. Jusuf malah mendirikan Radio Suara Indonesia dan meminta Bung Karno menyampaikan pidato perdana sebagai Presiden Republik Indonesia pada 25 Agustus 1945.

Jusuf juga meminta agar pimpinan radio di daerah, yang masih dikuasai kempetai, tetap melanjutkan siaran untuk menyebarkan semangat perjuangan. Permintaan ini juga memunculkan gagasan untuk mendesak pemerintah Jepang memberikan stasiun radio mereka untuk Indonesia.

Pada 11 September 1945, rapat diadakan sebagai kelanjutan dari pertemuan pada 10 September, untuk menyetujui pendirian Radio Republik Indonesia (RRI). Karena permintaan stasiun radio ditolak Jepang, terjadi perebutan paksa oleh pemuda Indonesia terhadap stasiun radio tersebut.

Jepang yang tak lagi memiliki kekuatan sejak peristiwa Hiroshima dan Nagasaki tidak melakukan perlawanan saat terjadi perebutan paksa stasiun radio mereka. Jusuf ditunjuk sebagai Kepala RRI yang pertama. Slogan RRI “sekali di udara, tetap di udara” juga diciptakan oleh suami dari Siti Fatima Rassat ini.

Namun saat Agresi Militer Belanda I tahun 1946, RRI direbut tentara Kerajaan Belanda. Jusuf ditangkap dan dipenjara pada 21 Juli 1947. Setelah dua tahun, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indoensia. Jusuf kembali menjabat Kepala RRI hingga 1950.

Selain mendirikan RRI, Jusuf bersama tokoh lain juga mendirikan Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), 19 Agustus 1971. Periode 1986-1988, Jusuf menjadi Anggota Dewan Pengawas Perhimpunan LP3ES dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas pada 1988-1996.

Pria kelahiran Salatiga, 30 September 1919, tutup usia hari ini delapan tahun yang lalu, pukul 23.20 WIB. Jusuf dirawat secara intensif di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, sebelum akhirnya meninggal karena menderita kanker paru-paru dan stroke.

Sejumlah kerabat dan pejabat negara datang melayat ke rumah duka, di antaranya Menteri Pertahanan saat itu Juwono Soedarsono dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta. Jenazah Jusuf dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pukul 12.45 WIB keesokan harinya setelah melalui upacara militer.

Anugerah Lifetime Achievement

Jusuf menerima Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun 2012. Nina Mutmainnah Armando, Ketua Panitia Anugerah KPI 2012 menyatakan, Lifetime Achievement adalah penghargaan khusus bagi individu yang mempunyai peran besar dalam sejarah dan penyiaran di Indonesia.

Jusuf dianggap layak menerima penghargaan tersebut karena memiliki visi memajukan penyiaran Indonesia, memberi teladan, serta inspirasi bagi insan penyiaran.

Anugerah Lifetime Achievement bagi Jusuf diterima oleh sang istri, yang hadir dalam malam Anugerah KPI 2012 didampingi menantu dan cucu-cucunya.

Leave a Reply