7 Feb 2020

Hari-hari Terakhir Wartawan AFP Meliput Korona di Wuhan

Awak redaksi Agence France-Presse (AFP) masih sempat meliput di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, setelah wabah virus korona (2019nCoV) menggemparkan dunia. Tim pewarta yang terdiri dari jurnalis video Leo Ramirez, pewarta foto Hector Retamal, dan wartawan tulis Sebastien Ricci melaporkan situasi selama delapan hari di Wuhan antara 24-31 Januari 2020.

Ramirez, Retamal, dan Ricci merupakan satu-satunya awak redaksi media internasional yang dievakuasi paling akhir untuk kembali ke Perancis, Jumat (31/1). Ricci mengatakan, “Wuhan terasa seperti kota hantu ketika kami tiba di sana. Pesawat yang kami naiki nyaris kosong, hanya ada 30 orang, mayoritas orang China yang akan kembali bergabung dengan keluarga, dan mereka menatap nanar ke arah kami.”

Foto: Pixabay

Dilansir dari laman Correspondent AFP, ketiganya menceritakan pengalaman meliput di Wuhan itu dari salah satu resor di sebelah selatan Perancis, setelah kembali dari Wuhan. Ricci, yang telah 10 tahun meliput di China, berkisah, ketika pesawat mendarat, bandara sepi, jalan raya lengang, tak seorang pun tampak ada di jalanan. Sekitar tahun baru Imlek—hari libur terpenting di China—biasanya jalan dipenuhi orang-orang yang bersiap atau bersuka ria untuk liburan. Tetapi waktu itu benar-benar mencolok, kosong.

Ricci memang terbiasa meliput di wilayah konflik seperti Afghanistan, Iran, dan Kurdistan. Di tempat-tempat sulit itulah dia tetap melihat ada kehangatan dan kesan mendalam dalam berinteraksi dengan orang lain. Begitu pula di Wuhan.

Suatu hari, Ricci diundang oleh sepasang suami istri setempat ke apartemen mereka, dan ketika masuk, makanan sudah siap tersaji di meja. Pasangan tersebut sebenarnya menunggu anak mereka pulang dari New York, Amerika Serikat, untuk merayakan tahun baru. Tetapi sayang, sang anak tak bisa pulang karena situasi belakangan ini. Jadi keduanya senang jika bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Ricci awalnya menolak, karena tim liputan ini baru saja berkeliaran di luar sana dan bisa membawa risiko bagi pasangan tersebut. “Itu adalah momen yang mengharukan untuk saya. Ketika orang punya banyak alasan untuk tidak mempercayai satu sama lain karena kemungkinan terpapar virus, keluarga ini justru menunjukkan kehangatan,” cerita Ricci.

Kisah Ramirez lain lagi. Dia mengatakan, rasa takut akan terserang virus corona menghantui pikirannya. Selama 10 tahun bekerja di AFP, rekaman video di Wuhan adalah yang paling emosional. Terlihat wajah-wajah sedih sekaligus berani menghadapi virus, ratusan relawan mempertaruhkan nyawa, dan staf medis yang bekerja tanpa henti.

“Sebelum dievakuasi dan dikarantina ke selatan Perancis pada Jumat, kami adalah satu-satunya tim dari kantor berita internasional yang masih di pusat kota tempat virus pertama kali menyebar,” tulis Ramirez.

Hingga Aksara memuat tulisan ini (7/2/2020), korban meninggal dunia akibat virus corona di Provinsi Hubei mencapai 618 orang, dan menjadi 636 total di seluruh dunia. Total kasus infeksi virus corona di China sebanyak 31.161, dan lebih dari 4.800 penderita dalam kondisi butuh perawatan serius.

Menurut Ramirez, selama meliput di Wuhan, ada dua tantangan yang mereka hadapi. Pertama, menyampaikan cerita penting mengenai virus corona, dan kedua, memastikan diri tidak menjadi bagian dari korban lantaran ikut terpapar virus.

Tidak ada jalan mudah dan aman untuk melawan musuh yang tak terlihat. Tetapi, beberapa hal dapat dilakukan untuk mengurangi peluang tubuh terkontak virus. Di antaranya dengan menggunakan masker wajah, sarung tangan bedah, dan kacamata debu sepanjang waktu, mencuci tangan, makan, serta meminum vitamin secara teratur.

Selama tinggal di hotel, masih menurut Ramirez, setiap penghuni diukur temperaturnya oleh pegawai dan diperbolehkan masuk ketika suhunya di bawah 37 derajat. Hari ketiga, ketakutan terbesar Ramirez muncul ketika suhu tubuhnya menunjukkan angka 37,6. Hingga diukur ulang sebanyak tiga kali, pengukur suhu masih menunjukkan angka yang sama.

Saat itu, dia dan orang-orang di sekitarnya mulai merasa takut. Kemudian, pegawai hotel mengukur temperatur Leo menggunakan termometer berbeda dan hasilnya, 36,6 derajat! Semua orang bernapas lega.

“Setiap hari, kami meninggalkan hotel dengan tangan kosong dan pulang dengan banyak informasi. Saya merasa sangat sedih meningglkan Wuhan dan itu sangat mengganggu. Saya merasa, seharusnya ada di sana, merekam apa yang terjadi,” kata Ramirez.

Sama seperti rekan kerjanya yang lain, Retamal juga telah memiliki segudang pengalaman meliput isu yang sulit. Tahun 2010, dia meliput wabah kolera yang membunuh lebih dari 9 ribu orang di Haiti. Ia juga tinggal di tenda gurun di Chile selama tiga bulan untuk meliput kisah 33 penambang yang terjebak 700 meter di bawah tanah.

Satu yang mengagetkan Retamal adalah masyarakat lokal sangat antusias untuk berbagi cerita kepada wartawan. Hal ini tidak sering terjadi di China. “Ketika meliput sesuatu seperti ini, jangan pernah dilupakan. Semuanya tampak mengejutkan, tetapi saya harus tetap melakukan pekerjaan dengan baik”, katanya. (smr/dka)

Leave a Reply