25 Feb 2020

Tips Jadi Wartawan: Dari dan Untuk Pewarta Pemula

Sesuai dengan judulnya, artikel ini membahas tips atau kiat-kiat menjadi wartawan pemula. Sebelum membaca lebih lanjut, alangkah lebih baik para pembaca memahami bahwa tips ini ditulis dari, oleh, dan untuk wartawan pemula. Karena ditulis oleh orang yang baru menjadi wartawan tiga bulan, beberapa bahasan akan relevan dengan pengalaman sebagian wartawan, sedangkan beberapa lainnya barangkali tidak.

Jangan Lelah Membaca

Ketika memulai hal baru, kewajiban pertama para pewarta adalah membaca, membaca, dan membaca. Tidak hanya membaca buku, media massa, media sosial, tetapi juga membaca fenomena alam yang terjadi di sekitar. Usahakan untuk tidak lelah membaca, agar pembaca tidak jemu membaca artikel kita yang kurang data, tidak jelas sudut pandangnya, minim fakta, dan kontennya mirip dengan artikel yang dibuat media sebelah.

Ilustrasi.

Banyak Bertanya

Selain membaca, banyak bertanya pun perlu. Masih ingat pepatah ‘Malu bertanya sesat di jalan’ kan? Pepatah ini berlaku ketika menjadi wartawan, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Dengan bertanya, berbagai informasi dan pendapat pribadi tokoh mengenai suatu hal dapat kita ketahui. Dari pertanyaan yang diajukan wartawan pula, mereka dapat menulis artikel-artikelnya.

Satu yang paling mengena, atasan saya pernah berkata, “Jangan pernah malu atau sungkan untuk bertanya. Saya akan menganggap kamu bisa dan mengerti semuanya karena tidak pernah bertanya”. Sejak itu, saya menjadi sedikit cerewet apabila menemui hal-hal yang belum saya ketahui.

Selalu Belajar

Belajar tak pernah mengenal batas usia. Tak peduli apakah kamu seorang wartawan kawakan, dan lebih-lebih jika kamu masih amatiran. Belajar menemukan berita yang aktual, menyusun artikel yang berkualitas, membuat daftar wawancara yang menggali banyak informasi, dan belajar hal-hal lain yang sesuai dengan kapasitas wartawan. Konsep ‘learning by doing’ nampaknya harus selalu dijunjung tinggi.

Teringat kembali perkataan atasan saya, “Jika kamu tidak mau belajar, maka saat itu kamu sudah merasa bisa. ‘Merasa bisa’ tentu berbeda dengan ‘bisa’ dalam artian sebenarnya. Lalu ketika artikel sudah jadi, ada kesalahan yang seharusnya tidak terjadi apabila mau belajar sebelumnya. itu berarti memang kamu tidak mau belajar, dan saya tidak bisa mengubah itu”. Pernyataan itu cukup mengejutkan dan mengubah pola pikir saya agar terus belajar.

Perbaiki Komunikasi

Komunikasi yang terjalin antara wartawan dan atasan, sesama wartawan, juga antara wartawan dengan narasumber. Sebagai wartawan yang baik, komunikasi mestinya dilakukan dengan jujur dan jelas. Informasikan atasan sesegera mungkin apabila ada sesuatu yang menjadikan kita tidak dapat menghadiri suatu acara atau kegiatan. Hal ini perlu dilakukan agar wartawan pengganti dapat segera dicari.

Selain itu, komunikasikan pula perkembangan berita yang sedang digarap kepada atasan. Apabila terdapat masalah, segera beri tahu atasan agar dapat mempertimbangkan untuk meneruskan penggarapan berita tersebut atau tidak.

Jangan Malu Berkenalan dan Memulai Percakapan

Jadi wartawan tidak boleh menutup diri. Bersifat terbuka, tidak malu untuk berkenalan, dan memulai pembicaraan dengan orang baru pun sangat diperlukan. Tidak jarang, sejumlah artikel menarik didapatkan wartawan ketika bertemu narasumber-narasumber di tempat dan cara yang tidak terduga. Intinya, perluas relasi dan jaringan.

Selain itu, beberapa pernyataan jujur yang tidak pernah dikatakan di muka publik juga sering terlontar ketika ngopi atau makan siang. Walaupun beberapa di antaranya menolak jika namanya disebut dalam artikel, akan tetapi bukti fisik dokumen akan menjadi penuntun untuk mengarah pada narasumber lain untuk mendapat konfirmasi.

Sabar 

Selain lima hal yang sudah disebutkan sebelumnya, satu hal utama yang mesti dilakukan wartawan adalah sabar. Sabar dalam menjalankan tugas dengan waktu dan tempat tak terduga, sabar menyikapi narasumber yang baik maupun menjengkelkan, sabar ketika meliput kejadian yang tidak kunjung usai, sabar ketika tulisannya dikomentari editor, sabar apabila tulisan sampai tidak diterbitkan. Sabar adalah kunci!

Kamu ingin menambahkan tips dan kiat lain yang belum masuk dalam daftar saya? Dengan senang hati! (Siti Masruroh/Aksara Institute)

Leave a Reply