1 Mar 2020

Lilin-lilin “Semesta” yang Menjaga Lingkungan Indonesia

Tanakhir Films resmi menayangkan film Semesta di jaringan bioskop di Indonesia sejak 30 Januari lalu. Film dokumenter garapan sutradara Chairun Nissa, dengan produser Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra, ini masuk sebagai nomine kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2018.

Film ini pun terseleksi dan diputar pada SUNCINE International Environmental Film Festival–festival khusus untuk film dokumenter bertema lingkungan di Barcelona–pada 6-14 November 2019.

Proses pembuatan film ini memakan waktu hingga empat bulan. Dengan durasi 90 menit, ada tujuh tokoh yang dipotret dalam Semesta.

Suasana nonton bareng film Semesta oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru Kemdikbud, Jakarta, 18 Februari 2020.

“Tim kami memutuskan untuk mengangkat tujuh tokoh dari tujuh wilayah Indonesia. Setelah riset, kami mendatangi ketujuh wilayah tersebut untuk mendokumentasikan usaha menjaga keseimbangan alam, atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya,” ungkap Mandy Marahimin, Selasa 18 Februari lalu.

Pernyataan Mandy tersebut disampaikan saat acara pemutaran film Semesta oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru yang dihadiri Aksara Institute di Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta.

Film dibuka dengan kisah Tjokorda Raya Kerthyasa dan umat Hindu Bali yang melaksanakan Nyepi. Hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka ini layaknya tombol setop untuk penggunaan listrik, transportasi, dan industri. Efek pengurangan emisi harian yang luar biasa di Bali ini terjadi hanya dalam satu hari dari total 365 hari sepanjang tahun.

Setelah itu ada Agustinus Pius Inam, Kepala Suku Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Bersama penduduk Suku Dayak Iban, tradisi dan hukum adat pengelolaan wilayah hutan dijunjung tinggi. Dengan demikian, ekosistem hutan tetap terjaga.

Beralih ke wilayah Bea Muring, Manggarai, Nusa Tenggara Timur dengan Romo Marselus Hasan, pemimpin agama Katolik. Romo dan masyarakat mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro setelah sebelumnya menggunakan genset yang menimbulkan polusi udara dan suara. Pemanfaatan energi bersih dan terbarukan yang ramah lingkungan ini dijadikan solusi pemerataan listrik bagi masyarakat setempat.

Kisah Almina Kacili, kepala kelompok wanita gereja di Kapatcol, Papua Barat, lain lagi. Bersama ibu-ibu anggota kelompoknya, Almina turut menjaga keseimbangan ekosistem laut dengan Sasi—tradisi untuk melindungi laut dengan periode pengambilan biota yang telah ditentukan.

Berpindah ke Indonesia barat, ada Muhammad Yusuf, seorang imam di Desa Pameu, Kecamatan Rusip, Kabupaten Aceh Tengah. Bersama masyarakat setempat, ia lebih memilih untuk berdamai dibanding membunuh gajah-gajah yang merusak ladang dan permukiman. Kesadaran bahwa perusakan oleh gajah tersebut disebabkan pembabatan hutan menjadikan Muhammad selalu mengingatkan penduduk untuk menjaga ekosistem hutan.

Ada juga Iskandar Waworuntu dan keluarga yang melakukan praktik thayyib (baik), berkebun dengan ilmu permakultur. Berbekal tanah berwujud rumah dan kebun di Yogyakarta, mereka berusaha menjalin hubungan baik dengan alam dan bersedia mengajari orang-orang yang tertarik di bidang tersebut.

Film ditutup dengan kisah Siti Soraya Cassandra, petani urban pendiri Kebun Kumara di tengah padatnya ibu kota Jakarta. Bersama suami dan adiknya, ia mengampanyekan prinsip belajar dari alam dan menghijaukan tanah kota secara kreatif.

Sejalan dengan pesan film ini, mengutip perkataan Bung Hatta, “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bersinar karena lilin-lilin di desa”.

Tujuh tokoh dalam film Semesta ibarat tujuh lilin penerang tersebut, menunjukkan bahwa usaha memelankan dampak krisis iklim dapat dilakukan melalui langkah kecil sebagai individu maupun masyarakat. Tentunya dengan tetap mempertahankan konsep agama, kepercayaan, dan budaya khas Indonesia. (smr/ita)

Leave a Reply