20 Mar 2016

Langkah-Langkah Dingin Norman Edwin

Selembar kartu pos tiba di sebuah rumah dua kamar. Bergambar pondok-pondok pada suatu lembah—dalam ingatan lamat-lamat sang penerima, halaman putihnya mencatat kabar dari Argentina: “Gue sampai di kaki Gunung Aconcagua.”

Surat kecil tak bersampul  itu tiba, sekitar tiga pekan sejak dikirim dari kaki Penjaga Batu—nama lain Aconcagua. Kartu pos itu pula yang menandai tulisan terakhir Norman Edwin kepada istrinya, Karina Arifin.

Beberapa hari sesudah kedatangan kartu pos, “anak-anak Mapala UI [Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia] datang ke rumah,” kata Karina mengenang Maret pada 24 tahun silam. Norman dinyatakan hilang. Berusaha tetap tenang, Karina mendengarkan penjelasan teman-temannya.

Norman Edwin tengah mengamati lukisan cadas di tebing Batuputih, Sulawesi Tengah. Foto melengkapi tulisan Norman bertajuk “Dijual: Sulawesi Tengah!.” (Dok. Wien/Suara Alam)

“Saya,” ucap Karina kemudian, ”sudah mempersiapkan [datangnya] hari-hari ‘aneh’ seperti itu.” Pada tarikh yang selalu ia ingat. Pada pemberitahuan akan jalinan badai salju yang memerangkap Aconcagua. Pada, seperti ia yakini, hari-hari berat Norman di jalur pendakian Penjaga Batu.

Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Universitas Indonesia ke Puncak Aconcagua berlangsung 12-27 Februari 1992. Kelima anggota pendakian—masing-masing Norman, Didiek Samsu, Rudi Nurcahyo, Mohammad Fayez dan Dian Hapsari—memutuskan turun, sesudah Fayez terkilir.

Dua lainnya—Norman dan Rudi– terkena radang beku. Jari tengah pada tangan kiri Norman akhirnya mesti diamputasi. Tak lama, Fayez dan Dian pulang ke Jakarta. Sedangkan Norman, Rudi “Becak” dan Didiek sementara tinggal di Santiago del Estero, Argentina.

Rudi dirawat di sebuah rumah sakit di Santiago del Estero. Norman dan Didiek memutuskan kembali menjejak Aconcagua. Rencana pendakian ulang tercatat 11-21 Maret 1992. Tak juga memberi kabar, keduanya lalu dimaklumkan hilang pada 21 Maret 1992.

Upaya pencarian dan penyelamatan tak bisa segera terlaksana, lantaran badai salju terus menelungkup Aconcagua. Ketika tim penyelamat berhasil menyisir jalur pendakian, Norman dan Didiek sudah tak terselamatkan.

Jenazah keduanya baru tiba di Puente del Inca–desa terakhir sebelum jalur pendakian–pada 14 April 1992.

Tujuh hari kemudian, peti yang membaringkan keduanya sampai di Jakarta. Jenazah Norman dan Didiek lalu disemayamkan di kampus UI di Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dari situ, jenazah Didiek dibawa ke rumah keluarganya. Peti bersemayamkan Norman–yang tak lagi dibuka sejak kedatangannya di terminal kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta—tetap di UI.

Dulu ada yang bertanya, kata Karina pada suatu siang yang mulai mendung di laboratorium arkeologi UI, “kenapa jenazah Norman tidak dibawa ke rumah?”

“Ya …,” ucapnya sehabis menyesap air putih hangat, “kampus [UI], kan, rumah Norman juga.”

Jenazah Norman dimakamkan menjelang magrib di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ia dikebumikan pada hari yang sama dengan kedatangannya. “Saat itu hampir gelap,” papar Karina mengenang, dan “hujan turun sangat deras.”

Usia Melati—putri Norman dan Karina—hampir delapan tahun saat sang bapak berpulang. Kepada Karina, ia sempat menanyakan keberadaan bapaknya.

Pulang ke pangkuan Tuhan, kata Karina menjawab. “Berarti Tuhan gede sekali, ya,” sahut Melati lagi, “karena bisa memangku banyak orang.”

Norman tak sekadar petualang yang bepergian hanya untuk menikmati pemandangan, menelusuri bentang alam, lalu selesai.

Pada sekat-sekat perjalanan, lelaki yang sempat berkuliah pada jurusan arkeologi UI itu “selalu merasa bertanggung jawab menuliskan sesuatu [atas penjelajahannya],” kenang Karina. Sebab ia wartawan. Ya, karena itu juga. Tapi yang lebih sederhana lagi: karena Norman memang senang menulis.

“Ia punya bakat itu. Menulis. Kemudian ditekuni,” papar sang dosen prasejarah Departemen Arkeologi UI.

Karina Arifn, istri mendiang Norman Edwin, membaca ulang "Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam."

Karina Arifn, istri mendiang Norman Edwin, membaca ulang “Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam.”

Norman punya kebiasaan membaca terkait rencana bepergian di belakang hari. Membaca buku, jurnal, juga koran. Dari sumber-sumber kepustakaan, ia berusaha mempelajari letak situs purbakala, serta teknik-teknik pemanjatan dengan tali. Norman merasa perlu lebih dulu membaca lantaran, pada masanya, panduan tentang dua hal itu—khususnya–cukup terbatas.

Lalu dicermati, dibandingkan, dicatat semua yang menjadi pertanyaan dan pengetahuan baru. Ia meriset.

Ternyata tak sampai di situ. Ketika lowong, ia akan “mengetik hasil catatan serta apa-apa yang dirasa penting dari kuliah sepanjang hari.” Menggunakan mesin tik. “Benar-benar dengan sepuluh jari,” papar dosen yang kini berusia 56 tahun.

Hasil ketikannya lalu disimpan dalam map. Begitu juga kliping–guntingan artikel dari halaman-halaman surat kabar. Semua masuk map.

Satu, dua, tiga map. Kemudian bertambah hingga berbelas-belas lagi. “Ia sangat disiplin kalau soal dokumentasi,” kata nenek dari dua cucu laki-laki itu. Kedisiplinan yang masih pula dikenangkan fotografer senior Don Hasman, sekarang.

Oom Don, demikian ia biasa disapa, sempat bekerja satu kantor dengan Norman. “Meja kami bersebelahan di ruang redaksi Majalah Mutiara,” cerita Oom Don kala dihubungi lewat sambungan telepon pada Jumat silam.

Norman, kata Oom Don, bisa mengetik berjam-jam lamanya di kantor. “Saya masih ingat mesin tik nya,” sahut Oom Don sambil tertawa kecil, “buatan Italia. Warnanya campuran cokelat dan abu-abu. Aneh, ya, warnanya.”

Norman, yang tutup usia pada 37 tahun, sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sebab dengan begitu, ia bisa bermain-main dengan Melati di rumah mereka. “Tahun 1985 saat itu. Melati masih sangat kecil,” ucapnya.

Nostalgia yang turut menyepakati ingatan Karina. Menurut sang istri, Norman lebih banyak mengetik di kantor. Kalaupun harus bekerja di rumah, “ia tak lantas menutup diri. Tak mau diganggu.” Kapan pun Karina dan Melati membutuhkan, “kami tinggal ke ruang kerjanya saja.”

Ia bukanlah penulis yang penyendiri.

Norman mengawali profesi jurnalis di Majalah Mutiara pada 1984. Dua tahun di sana, ia lalu bergabung dengan majalah dwi mingguan Suara Alam. Norman tercatat sebagai wartawan Kompas hingga hari kepergiannya.

Peliputan pertama Norman bertajuk “Arca Domas dan Baduy di Kanekes” untuk Majalah Intisari. Hasil pengamatan yang “jadi kebanggaannya,” papar Karina.

Ia lalu menyelinap ke perut Bumi. Sebentar-sebentar menengok gunung-gunung yang sedang erupsi, atau sesudah peristiwa meletusnya. Ia mengayuh dayung di tengah-tengah riam, kemudian bangun pagi di atas tebing-tebing tinggi.

Pada pundaknya tersandang ransel. Tangannya berbekal alat perekam dan buku catatan.

“Norman itu bisa bawa empat sampai lima kaset perekam sekali pergi,” kata Oom Don. Satu di antaranya selalu ia bawa. Ke mana pun. Isinya “percakapan [Norman] dengan Melati.” Atau, suara Melati sedang bernyanyi.

“Ia sangat bangga sama Melati,” tutur Karina yang juga anggota Mapala UI. Matanya membaca ulang halaman-halaman “Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam.” Buku yang disunting wartawan senior Rudy Badil ini berisi tulisan-tulisan perjalanan Norman, selama bekerja sebagai jurnalis.

Bagi Norman, “perempuan itu setara dengan lelaki. Atau malah, tanpa disadari, bisa melakukan lebih banyak hal ketimbang lelaki,” Karina kembali mengenang. Ia lalu tersenyum mengingat kelakuan kedua cucu di rumah. “Cucu-cucuku mulai kelihatan keras kepala,” ia melanjutkan. Agaknya “menurun dari kakek mereka.” (aks/iks)

Leave a Reply