31 Mar 2016

Masalah Energi, Tak Cukup dengan Satu Jari

Ada yang tidak biasa dari suasana jembatan penyeberangan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat pada Sabtu (19/03). Malam itu, terlihat kerumunan pekerja media yang berdiri di sisi jembatan.

Menghadap Tugu Selamat Datang, beberapa hilir mudik sambil memanggul peralatan memotret. Mencari tempat terbaik untuk mengabadikan Earth Hour.

Air mancur di tengah-tengah Bundaran HI jadi objek utama. Kamera terbidik pada warna-warni lampunya. Seorang jurnalis berkali-kali melihat arloji, kemudian bertanya pada kawannya, “Sudah jam 20.30. Mengapa tak kunjung gelap?”

Tepat di bawah jembatan itu, seorang perempuan bernama Lita (16), yang kesehariannya mengamen di sekitar Bundaran HI, berbincang dengan kawannya melalui telepon genggam. “Memang di Monas mati lampu? Di sini enggak.”

Tugu Selamat Datang, Jakarta Pusat, tak sungguh-sungguh menggelap sepanjang Earth Hour 2016. (Foto: Dokumentasi Aksara Institute)

Tugu Selamat Datang, Jakarta Pusat, tak sungguh-sungguh menggelap sepanjang Earth Hour 2016. (Aksara Photo)

 

 

 

 

 

Malam itu, ia tak merasa ada yang berbeda di Bundaran HI. Bagi Lita, tempat itu tetap gemerlap seperti malam-malam sebelumnya. Orang-orang berlalu-lalang. Sebentar-sebentar klakson berbunyi nyaring. Polisi dan satpam tampak berjaga di depan gedung perkantoran, juga barisan hotel.

Ketika berjalan sedikit menjauh dari jalan utama Bundaran HI, tepatnya menuju Jalan Imam Bonjol, kelip-kelip lampu sedikit menghilang. Gedung-gedung padam. Tidak ada lampu jalan yang menyala. Dari sudut Jalan Imam Bonjol, puncak Wisma Mandiri tampak menggelap. Begitu pula langit di atasnya.

Satu jam berlalu. Arloji menunjukkan pukul 21.30 WIB. Bundaran HI terlihat sedikit lebih terang. Ada bagian-bagian gedung dan lampu jalan yang kembali menyala. Ya, pusat kota Jakarta ini baru saja selesai merayakan Earth Hour 2016.

Kerja dan Tantangan

Tahun ini adalah perayaan Earth Hour yang ke-8. Aksi peduli lingkungan ini selalu dikemas dalam momentum yang singkat: menggelapkan kota-kota besar di seluruh dunia selama satu jam.

“Cukup matikan lampu dengan satu jari. Kami ingin menunjukkan bahwa menghemat energi itu sebenarnya mudah”, ujar Nefa D. Firman, Creative Development Officer lembaga pemerhati lingkungan World Wildlife Fund (WWF) pada malam itu di Bundaran HI.

Soal klik satu jari berubah ketika memandang banyaknya lampu-lampu gedung masih menyala. Nefa sadar, mengajak masyarakat berpartisipasi dalam aksi ini bukanlah perkara mudah. “Jumlah manusia di Bumi semakin banyak. Sehingga perlu upaya lebih keras untuk mengajak,” kata Nefa.

Dengan antusias, ia menceritakan bagaimana tim WWF seteguh mungkin menyosialisasikan Earth Hour. “Kami [WWF Indonesia] melakukan kampanye publik minimal tiga bulan sebelumnya, baik melalui media online maupun offline.” Selain itu, katanya lagi, imbauan kepada lembaga pemerintah dan perusahaan dibangun sedari lama. Tepatnya delapan tahun lalu.

Upaya itu berbuah hasil. Beberapa perusahaan sudah otomatis mematikan lampu dalam peringatan Earth Hour, atau sekali dalam setahun.

Kesibukannya tak sampai di situ. Setelah acara selesai, ia beserta tim harus memikirkan tema Earth Hour selanjutnya. “Kalau tahun ini temanya Shine a Light on Climate Action. Kami ingin Earth Hour lebih dari kegiatan rutin tahunan, karena yang dilawan adalah masalah besar, yaitu perubahan iklim,” sahut Nefa.

Penyumbang terbesarnya, kata Nefa pada sela-sela Earth Hour 2016, adalah emisi yang dihasilkan oleh pemakaian energi listrik.

Menurut Nefa, manusia, terutama masyarakat urban, memang tidak bisa lepas dari energi listrik. Namun, sedikit perubahan gaya hidup dapat membantu Bumi menjadi lebih baik. Misalnya jika 10% penduduk Jakarta mematikan lampu selama satu jam. “Penghematan listriknya bisa sebesar 300 MW.” Daya listrik sebesar itu “dapat menyalakan 900 desa.

Cita-cita itu jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi tahun ini, tidak terdapat penurunan yang berarti pada penggunaan listrik dalam aksi Earth Hour di Jakarta. “Tadi malam (19/03), pada pukul 20.30 WIB, penggunaan listrik mencapai 6.082 megawatt. Sementara pekan sebelumnya mencapai 5.602 megawatt”, ujar Agung Murdifi, Manajer Senior Public Relations PT Perusahaan Listrik Negara, seperti dikutip dari situs Kompas.com

Nadi Ekonomi pada Sela-Sela Energi

Sinar Matahari pagi yang masuk dari ventilasi sebuah rumah di Kampung Bandung, Jakarta Pusat, tampaknya tidak banyak membantu Edi (60) dalam pekerjaannya. Terang dari sumber alami itu tidak ada apa-apanya dibanding cahaya lampu neon putih, yang menggantung agak rendah dalam suatu ruangan. “Lampu ini menyala dari jam 8 pagi sampai 10 malam,” ujar Edi.

Bagi Edi, lampu neon ibarat ujung tombak pekerjaan yang sudah digeluti selama 28 tahun. Bahkan, teknologi lampu hemat energi (LED) tak mampu menggantikan kehebatannya.“Lampu itu (LED) terlalu silau. Warna kain jadi terlihat sama. Misalnya, kain warna hitam terlihat seperti abu-abu,” papar Edi pada suatu siang yang terik.

Dalam ruangan itu, Edi memotong setumpuk kain berwarna hitam sesuai pola. Produksi lalu dilanjutkan 11 penjahit di ruang depan. Masing-masing penjahit menjalankan satu mesin jahit listrik. Mereka mengubah potongan kain tersebut menjadi celana siap jual, dengan merek Star Talon.

Pada langit-langit ruangan, kabel-kabel menjuntai, menyalurkan arus listrik ke mesin-mesin jahit dan lampu-lampu neon. Kabel-kabel tersebut bagaikan pembuluh nadi dalam proses produksi, memastikan agar denyut ekonomi masih berlangsung di sana.

“Jika listrik padam seharian, kami tidak bekerja. Berarti tidak ada uang yang dibawa pulang,” ucap Edi. Upah mereka dibayar per-hari. Besarnya tergantung dari jumlah celana yang selesai diproduksi. Selama Edi bekerja di sana, listrik hanya padam dua kali.

Pemadaman justru lebih sering terjadi di rumahnya. “Saya hobi menonton tinju di depan televisi, tapi listrik sering mati.” Inilah yang membuat Edi kesal. Baginya, menonton televisi adalah hiburan andalan setelah lelah bekerja.

Ia kemudian teringat listrik di daerah asalnya, Pariaman, Sumatra Barat. Di sana, listrik jarang padam karena memanfaatkan tenaga air. “Saat gempa bumi Sumatera Barat 2009, listrik hanya padam sebentar,” kata Edi mengenang.

Kondisi yang sangat berbeda dengan daerah-daerah di pinggiran Jakarta seperti Bogor, Parung Panjang, atau Ciseeng. Hanya karena hujan, sahutnya kembali, “listrik langsung padam.”

Bagi Edi, permasalahan energi yang utama adalah persebaran dan aksesnya yang tidak adil dan merata. “Dalam hal ini, pemerintah-lah yang harus bertanggung jawab, Jangan hanya meminta masyarakat untuk memadamkan listrik,” paparnya kemudian. “Itu hanya akan menyusahkan. Biaya hidup bakal semakin mahal karenanya.”

(aks/Isma Dwi Fiani)

 

Catatan:

Isma Dwi Fiani merupakan salah satu peserta The Writer’s Workshop II. Tulisan bertajuk “Masalah Energi, Tak Cukup dengan Satu Jari” adalah karya in-depth terbaik dalam kelas.

Leave a Reply