2 Jun 2016

Lanoni yang Menyala-nyala

Sampul depan Lanoni. (Dokumentasi Fhay Hadi)

Sampul Lanoni. (Dok. Fhay Hadi)

Pada suatu masa yang lampau di Tanah Dondo, kabar duka seumpama tebasan batang pohon. Mengerut dan tak lagi hidup. Kata “maaf” ibarat titian pada titik-titik hujan. Muskil dan sudah kodratnya mustahil.

Inilah Tanah Dondo, Sulawesi Tengah pada 1942. Tumpah darah yang dijarah penjajah.

Semua beranjak tiada. Manusia, hak, benda dan makna. Segala dirampas. Bahkan tanaman singkong di pekarangan. “Jika tidak pandai menyelimpat, bakal tak makan seharian,” begitu Fhay Hadi berkisah dalam halaman awal Lanoni.

Lanoni terlalu banyak melihat kekejaman penjajah. Gairah melawan sampai-sampai kuat menghunjam dalam pikiran. Malahan sejak usia Lanoni belum remaja. Tukikan-tukikan “lawan” menjadikannya lelaki yang tekun berpikir, tetapi juga gampang marah. Yang berbahaya adalah, kala ia marah dan akhirnya nekat melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Berbahaya.

Bersyukurlah Lanoni lantaran bertemu Radjaili, yang kemudian ia panggil “Guru.” Oh, guru yang tak pernah marah kah ia?

Tidak juga. Radjaili terus menabung marah pada penjajah. Lebih banyak dan besar ketimbang Lanoni. Apalagi usia Radjaili jauh di atas Lanoni. Apa yang sekali membuat Lanoni gusar, sudah 11 kali menjadi kemarahan sang guru. Tapi Radjaili nyaris selalu mampu menutupi. Ia bertahan sambil mengatur siasat.

Dalam interaksi antara guru dan murid, Lanoni ibarat peletup. Sementara Radjaili adalah peredamnya.

Radjaili mendampingi hingga anak muda yang menyala-nyala itu siap berperang. Saatnya berdiri sendiri, Lanoni. Saatnya mengatasi perut keroncongan di medan perang tanpa bantuan Guru.

Sambil merisik sisa-sisa singkong di tanah pribumi, Lanoni mulai berancang-ancang. Bersiasat.

Teringat ia akan seekor burung puyuh, yang berkali-kali mengelabui pandangannya. Terkenang  laron-laron yang datang bergerombol saat hujan turun, lalu mengerubuti lampu atau di mana saja tampak cahaya.

Burung puyuh yang lihai. Laron yang, bagi Lanoni, “seakan-akan tak punya kegunaan.” Mungkin dari makhluk-makhluk itu Lanoni sebetulnya belajar. Tanpa ia sadar. Makhluk-makhluk yang memberi manfaat kala ia berperang, kelak. Seperti halnya ia menerima dan akhirnya mengamalkan faedah sang guru. Kebaikan yang bersiklus. (aks/iks)

Leave a Reply