14 Sep 2015

Pertaruhan Kebenaran dalam Kerja Jurnalistik

Dalam diri seorang penulis, tutur wartawan senior Fikri Jufri suatu waktu, “reporter menjadi profesi seumur hidup.”

Namun, sebetulnya, pekerjaan sepanjang seseorang bernapas itu bukan hanya milik reporter. Setiap orang yang mempraktikkan kerja jurnalisme sejatinya adalah reporter. Lantas muncul pertanyaan: Jurnalisme yang seperti apa?

Tentu bukan jurnalisme alkohol. Praktik yang, herannya, sibuk menyebarkan isapan jempol.

Sebaliknya, jurnalisme yang ini senantiasa setia pada kebenaran dan hati nurani.

Soal kebenaran dan hati nurani turut tercakup dalam “Elemen-Elemen Jurnalisme,” buku yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Keduanya merupakan jurnalis senior Amerika Serikat. Menurut Kovach dan Rosenstiel, siapa pun yang mempraktikkan jurnalisme memiliki kewajiban utama atas kebenaran.

Ilustrasi. (Pexels.com)

“Kebenaran jurnalistik,” demikian istilah keduanya, hendaklah bermula pada kedisiplinan pengumpulan data serta verifikasi fakta. Perolehan informasi tersebut kemudian diperiksa dan diuji kembali. Sampai di situ. Lalu, “apakah wartawan harus netral terhadap hasilnya?”

Pertanyaan seorang peserta The Writer’s Workshop itu seakan-akan menyentil, paling tidak, para pemateri. Tempuhan yang bias kerap terjadi di lapangan. Terlebih ketika seorang jurnalis berhadap-hadapan dengan persimpangan, atau belokan-belokan. Ia mesti sanggup memutuskan: mau ke mana?

“Jurnalis itu sendiri harus adil dan netral. Namun, ketika bekerja di perusahaan media, [pada akhirnya] ia bukan lagi pembuat keputusan,” demikian jawaban pemateri dalam pertemuan kedua The Writer’s Workshop, 13 September 2015. Meski segala proses sudah ia lalui lewat metode-metode objektif. Walaupun ia, di awal hari, berkukuh pada kebenaran dan hati nurani.

Barangkali dulu ia sulit ikhlas. Tetapi kini, “legowo menjadi hal yang biasa.”