22 Mei 2017

Mengenal Profesi Fixer, Sosok di Belakang Jurnalis Asing

Jurnalis dari berbagai negara membutuhkan asisten lokal yang bekerja di belakang layar ketika mereka harus meliput ke negara atau wilayah asing yang belum pernah didatangi. Asisten lokal tersebut dikenal dengan sebutan fixer.

Fixer sangat penting di mana pun ketika Anda tidak tahu area yang Anda datangi,” kata Josua Leonard, produser televisi dengan program yang syuting di sejumlah negara, mengutip laman IJNet.

Menurut Leonard, meski syuting di negara berbahasa Inggris, biasanya dia tetap menyewa fixer untuk memudahkan tim bekerja.

Tugas setiap fixer berbeda, bergantung pada kebutuhan masing-masing jurnalis yang membutuhkan bantuannya. Apa saja yang dilakukan seorang fixer?

Fixer berperan sebagai sumber informasi atas pengetahuan lokal di sebuah daerah atau negara, membantu membuka jaringan media, perusahaan periklanan, dan organisasi lain yang membutuhkan logistik, penerjemah, dan kadang memiliki peran penting dalam produksi sebuah karya jurnalistik.

Habib Zohori, wartawan di Aghanistan sekaligus fixer, mengatakan, kemampuan yang disyaratkan untuk fixer yang baik adalah melampaui penguasaan bahasa. Yang sangat penting, seorang fixer harus memiliki jaringan yang sangat kuat.

Ilustrasi. (Pixabay.com)

“Jika Anda tidak kenal orang, Anda tidak akan bisa memenuhi kebutuhan rekan Anda. Saya punya lebih dari 10 ribu nomor telepon. Kadang saya menelepon seseorang bukan untuk wawancara, tetap hanya untuk menjaga relasi,” ujar Zohori.

Zohori mulai bekerja sebagai penerjemah dan dengan segera mendapatkan tawaran sebagai fixer yang membuka peluang untuk pengalaman baru. Pekerjaan itu mengantarkan Zohori mengenal lebih dalam tentang situasi dunia, perpolitikan, dan segala hal yang terjadi di negaranya.

“Saya tidak tahu yang terjadi di negara saya sendiri, tapi ketika saya memulai perjalanan saat masih tinggal di Kabul, saya menyadari banyak orang menderita dan ada perang di mana-mana,” Zohori bercerita.

Di daerah konflik, fixer kerap kali mengahadap risiko keamanan yang lebih besar ketimbang koresponden resmi sebuah media. Hal ini memunculkan pertanyaan penting ketika jurnalis dan perusahaan pers ngotot mengejar berita atau mengamankan fixer mereka.

Menurut Zohori, ketika seorang jurnalis asing datang ke Afghan, mereka tidak boleh menekan fixer dan sopirnya untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

“Jika seorang fixer mengatakan tidak mungkin untuk mendatangi wilayah tertentu, hal itu berarti hidup mereka terancam bahaya, dan Anda harus menghargai hal itu,” tutur Zohori.

Kontroversi lainnya seputar profesi fixer—terutama mereka yang bekerja di wilayah konflik—apakah mereka mendapat kredit atas keterlibatan mereka meliput sebuah peristiwa?

Bagi Zohori, keterlibatan intelektual yang dilakukan fixer pendamping jurnalis seharusnya dihargai, dan isunya bukanlah tentang uang.

Isu keamanan pernah dialami seorang fixer, Yosef Abobaker, di Suriah, 4 Agustus 2013. Mengutip CNN, Abobaker diculik bersama wartawan Amerika Serikat Steven Sotloff oleh sedikitnya 15 orang yang bertopeng dan bersenjata.

Pada September 2014, Sotloff dipenggal, sementara Abobaker dibebaskan setelah 15 hari disekap. Saat disekap, para penculik sempat bertanya kepada Abobaker: apakah dia mengenal mereka?

“Mereka berkata, jika kami mendengar Anda bekerja dengan wartawan lagi, kami pasti akan membunuh Anda,” Abobaker berkisah.

CNN menghubungi sejumlah wartawan yang sempat bekerja sama dengan Abobaker, dan mereka mengatakan, Abobaker adalah seorang fixer yang bagus dengan reputasi baik.

Perjalanan mendampingi Sotloff ke Suriah bukanlah kali pertama Abobaker menjadi fixer untuk jurnalis asing. Sebagai fixer, Abobaker mengatur segala hal mulai dari memandu, menerjemahkan, hingga mengatur wawancara dengan narasumber.

Saat itu, Abobaker sudah menjadi fixer selama 18 bulan dan bekerja dengan sedikitnya 100 wartawan. Untuk memandu Sotloff, Abobaker dibayar US$80 atau setara dengan Rp944 ribu per hari untuk kurs saat itu.

Selain di wilayah konflik, masih mengutip laman IJNet, permintaan fixer juga tinggi ketika ada perhelatan internasional seperti Olimpiade Brazil 2016 maupun Piala Dunia 2014. Carin Petti, pemilik Brazil Media Base—perusahaan penyedia fixer dan fasilitas untuk media asing di Brazil—mengatakan, semakin buruk infrastruktur di suatu negara, maka fixer semakin dibutuhkan.

“Terutama di negara yang tidak berbicara bahasa Inggris dan tidak aman,” ujar Petti.

Meski tidak bekerja di wilayah konflik, profesi fixer tetaplah menantang.

Fixer harus selalu siap dalam segala kondisi, bahkan yang tidak diperkirakan sekalipun. Tas ransel besar, kelengkapan logistik, memesan transportasi dan akomodasi, hingga bersiap menghadapi situasi darurat seperti jurnalis jatuh sakit.

Mike Garrod, Direktur World Fixer, mengatakan, “Kami memiliki fixer dengan beragam latar belakang akademik, mantan petugas polisi, mantan orang pemerintahan, dengan pengetahuan beragama yang bernilai.”

World Fixer adalah salah satu platform yang menghubungkan klien dan fixer di seluruh dunia—saat ini memiliki lebih dari 6.500 anggota. (aks/dka)

Leave a Reply