24 Mei 2017

Riset: Berita Teks Lebih Disukai daripada Video Online

Sebagian orang mungkin mengira bahwa video berita online saat ini sangat booming dan mengalami peningkatan signifikan, terutama dalam hal produk tersebut dikonsumsi publik. Tetapi riset Reuters Institute menyatakan sebaliknya dan mengungkap masa depan video online.

Riset tersebut menunjukkan, pertumbuhan video online lebih banyak disebabkan oleh keberadaan teknologi, platform, dan investasi perusahaan media dalam format visual, ketimbang permintaan tinggi dari konsumen.

“Rata-rata 2,5 persen pengguna website yang mengunjungi laman video dari total 30 portal berita. Sedangkan 97,5 persen tetap menghabiskan waktunya membaca teks,” demikian riset Reuters Institute, dikutip Aksara Institute pada 23 Mei 2017.

Ilustrasi. (Pexels.com)

Riset yang mengombinasikan konsumsi dan produksi video online tersebut dipublikasikan pada 2016. Pengumpulan data riset dilakukan mulai 2014 hingga 2016, dan wawancara dengan narasumber pada Desember 2015-Februari 2016, di negara Eropa dan Amerika Utara.

Sebanyak 75 persen responden yang disurvei dari 26 negara mengatakan, mereka sangat jarang, bahkan tak pernah menonton video online.

Di Amerika Serikat (AS) dan Jerman masing-masing 68 persen; Italia 80 persen; dan Inggris 79 persen responden memilih membaca teks berita. Sementara hanya masing-masing 4 persen responden yang memilih menonton video online di Italia dan Inggris, 6 persen di Jerman, dan 11 persen di AS.

Ilustrasi. Laman website BBC.

Riset yang dilakukan oleh Antonis Kalogeropoulos, Federica Cherubini, dan Nic Newman tersebut juga menanyakan dalam survei: apa tantangan yang dihadapi responden untuk menonton video online?

Sebanyak 41 persen menjawab, mereka lebih cepat dan lebih nyaman membaca teks; 35 persen menjawab, pre-roll ads (bentuk promosi video yang muncul sebelum konten utama) membuat mereka berhenti menonton ; loading video terlalu lama (20 persen); lebih suka menonton di layar besar dan video tidak memberi nilai tambah dalam teks berita masing-masing 19 persen; isu biaya data internet (9 persen); video tidak berjalan dengan baik (8 persen); dan tidak ada akses suara jika video ditonton di kantor (7 persen).

Responden yang diwawancarai dalam survei itu sebanyak 53.314 orang yang tersebar di 26 negara. Mereka adalah orang-orang yang tidak menonton video berita online selama satu pekan belakangan saat survei dilakukan.

Yang menarik dari temuan survei di atas adalah bahwa halangan dalam hal teknologi (kecepatan, ukuran layar, dan paket data internet) bukanlah alasan utama responden tidak menonton video online.

“Tantangan bahwa video tidak bisa menggantikan teks (dengan persentase 41 persen dan 19 persen) seharusnya menjadi kekhawatiran perusahaan media dan pengiklan dalam memproduksi dan menayangkan video online,” mengutip riset.

Sementara itu, konsumsi video di media online hanya meningkat signifikan ketika ada peristiwa breaking news sebagaimana tergambar dari bukti yang ditunjukkan BBC saat serangan teror di Paris, Perancis, 13 November 2015. Persentase pengguna yang mengakses video per kunjungan meningkat dari 11 persen di waktu normal menjadi 19 persen di website dan 22 persen melalui aplikasi BBC News setelah teror tersebut.

Bahkan jumlah penonton video ada yang mencapai 99 juta lewat Facebook, 15 juta di website BBC, dan 2 juta di Youtube.

Ilustrasi. Website CNN internasional.

“Peningkatan tersebut tidak terkait dengan volume klip video yang diproduksi, tetapi lebih karena rekaman tersebut secara alami lebih menarik. Hal itu memperlihatkan bahwa video telah menjadi bagian yang lebih penting dalam 24 jam pertama setelah breaking news,” tulis riset Reuters Institute.

Tantangan Terberat

Bukan hanya menghadapi kedigdayaan berita teks yang masih menjadi pilihan utama konsumen, upaya lain yang harus dilakukan adalah memproduksi video online dengan durasi di bawah satu menit.

Hal ini lantaran, dari penelitian bertajuk “The Future of Online News Video” tersebut juga terungkap, kesuksesan video mendapat perhatian publik adalah karena berdurasi di bawah satu menit, diedit tanpa suara dengan subtitle, berkonten soft news, dan mengandung elemen emosional yang kuat.

Dalam hal kesiapan menayangkan konten video di website, perusahaan juga menghadapi persoalan. Media seperti BBC misalnya, mereka memiliki perencanaan yang cukup baik.

Tetapi lebih banyak media masih dalam fase menjajal: mereka mengkhawatirkan nilai investasi yang signifikan, jumlah sumber daya, proses produksi video yang memakan waktu, sementara kemungkinan balik modal tak menentu.

“Memang ada pertumbuhan signifikan di video online, namun lebih banyak di jejaring sosial dengan konten soft news, bukan hard news. Meski ada inovasi dalam format dan produksi konten video dalam beberapa tahun mendatang, tetapi berat menyatakan bahwa video dapat menggantikan teks berita dalam hal kedalaman dan analisis,” demikian laporan Reuters Institute.

Ilustrasi. Seorang fotografer, yang juga bertugas mengambil video, sedang meliput di Kalimantan Timur. (Dok. Istimewa)

Selain isu-isu yang telah dijelaskan sebelumnya, riset setebal 47 halaman itu juga mengungkapkan, tantangan paling berat adalah mendatangkan keuntungan dari video berita online yang diproduksi. Sejumlah cara dilakukan untuk mengatasi isu tersebut, seperti menyediakan konten sponsor berbayar—meski dilakukan dengan susah payah.

Data statistik terakhir UK IAB menunjukkan pertumbuhan pemasaran digital berbasis video pada fase 51 persen tahun ini, mewakili nyaris seperampat (23 persen) dari keseluruhan pemasaran digital (IAB, 2015). Di AS, pendapatan pemasaran digital berbasis video tercatat US$4,2 miliar pada 2015, naik 30 persen dari 2014 (IAB, 2016).

Bagaimanapun, tak bisa dipastikan apakah nantinya pertumbuhan konten berita bakal diuntungkan lewat video online. Sebab: 1). subjek pemasaran acapkali bukan sesuatu yang ringan; 2) tak semua pelanggan menyukai promosi berbasis video; 3) ketergantungan akan sumber pendapatan pendukung (off-site) produk-produk Silicon Valley. (aks/dka)

Leave a Reply