12 Nov 2015

Hakikat pada Sepotong Kaca

Kukuh Purwanto tak hendak bercerita tentang ihwal yang, baginya, muluk-muluk. Ia hanya ingin mengenang masa kecil bersama dua gunung bersisian, pengapit Matahari yang “seakan-akan terkena setrum.”

Barangkali kemarin ia tak menyangka, gunung dan Matahari-nya justru mengantarkan sang putra Cepu sebagai pemenang. Ia berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Esai Budaya Damai 2015. Kemarin siang, tangannya langsung menerima piagam yang diberikan Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Wajahnya masih tampak gembira kala beberapa wartawan mulai mendekat, berupaya mewawancarai. Bertutur dengan nada rendah dan sebentar-sebentar mengangguk sopan, Kukuh menjawab semua pertanyaan tanpa, seperti yang dihindarinya tiap menulis, kata-kata muluk.

“Saya tidak mau menulis tentang kelompok ini, partai itu,” kata Kukuh saat ditanya soal pendekatan tulisannya. Hanya ingin “menulis tentang yang dekat dengan rumah saya.”

Kukuh Purwanto, juara pertama Lomba Esai Budaya Damai dan termasuk juara ketiga Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015. (Anastasia Ika)

Kukuh Purwanto, juara pertama Lomba Esai Budaya Damai dan termasuk juara favorit Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015. (Anastasia Ika)

Dalam esai bertajuk “Perihal Toleransi: Upaya Menjadi Rahmat bagi Semesta,” mereka yang dekat dengan Kukuh terwakilkan oleh gunung, Matahari, seorang teman di Tangerang serta Rukin, guru mengajinya.

Sebelum bertemu Kukuh, saya lebih dulu membaca tulisan sang pemenang. Sembari mengingat masa kecil, lelaki 26 tahun itu juga membubuhkan beberapa pandangannya tentang esensi.

Inti sari. Hakikat dalam suatu kehidupan.

Beberapa kali mesti tertegun mendapati kalimat-kalimat yang, kala dibaca, terasa apa adanya. Ia sungguh-sungguh tak muluk. Namun, justru dari kalimat-kalimat sederhananya itu, ia seolah-olah sedang mengajak kita kembali pada yang mula.

Seperti ditulisnya, “Kita tak akan pernah menyaksikan gemerlap bintang saat terang, lalu mengapa kita masih mengutuk kegelapan?”

Bagaimana jika dibalik? Masihkah kita? Barangkali. Selama gelap dan terang bertentangan dan kita tak rela, secara sekaligus, menerima keduanya.

Dalam konteks menulis, Kukuh sebisa mungkin menerima waktu yang tersedia untuknya.

Sehari-hari, dari pagi hingga malam, Kukuh mesti bekerja sebagai pemotong kaca. Kesempatan luangnya hanya sebelum beristirahat malam. Waktu yang tak seberapa panjang itu ia gunakan untuk menulis. Sedikit demi sedikit. Di depan layar telepon genggam, bukan komputer pribadi atau laptop. “Saya tidak punya komputer di rumah ,” sahutnya sambil tertawa kecil.

Siang itu Kukuh mendapat banyak pertanyaan dari beberapa wartawan. Saya permisi mundur. Saat berjalan menjauh, saya teringat seorang anak lelaki yang sopan dan tiba-tiba berkata sebelum wawancara, “Maaf, Mbak, saya mau bertemu saudara-saudara dulu. Boleh? Sudah datang dari jauh soalnya.”

___

Kukuh Purwanto memenangi juara pertama Lomba Esai Budaya Damai sekaligus juara ketiga Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015. Kedua lomba digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Oleh: Anastasia Ika Wulandari

Leave a Reply