16 Jan 2016

Menantang Maut Demi Rezeki (I)

Hampir tak ada yang mengindahkan terik menusuk kulit di sekitar Stasiun Duri, Jakarta Barat. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun sesekali mereka memperhatikan hilir-mudik kereta bergerbong delapan—pengancam nyawa ketika lewat. Salah satu di antaranya adalah Sri, seorang pedagang minuman penantang maut.

Perempuan berambut sedikit berombak ini tampak tak pernah takut. Ia berkisah bahwa tak ada yang bisa menghalangi dirinya mencari rezeki. “Kecuali maut!,” lanjutnya.

Minggu pagi itu memang tampak sibuk. Para pedagang dan pelanggan saling adu tawar harga. Ada yang berdagang pakaian, sayur, peralatan rumah tangga, burung, minuman, dan sebagainya. Semua bercampur aduk di tengah mara. Meski masih pagi, tetapi bola api raksasa cukup menyengat.

Di salah satu sudut, tampak beberapa pemulung memikul karung-karung putih. Mereka mengais sampah yang bertumpukan di sekitar rel itu. Sesekali membungkuk untuk memastikan, apakah sampah itu layak diambil atau tidak.

Suasana Pasar di Stasiun Duri, Jakarta Barat. (Dok. Aksara Institute)

Suasana pasar di bantaran rel kereta Stasiun Duri, Jakarta Barat. (Aksara Photo)

Sejak dahulu, rel kereta api ini telah disulap menjadi pasar. Tanpa peduli pengusiran yang terjadi berulang kali. Sesekali terdengar ada yang berteriak, woi …, woi …, menandakan kereta api semakin dekat. Orang-orang di sekitar pun bergegas menepi.

Sri telah 15 tahun berdagang di sekitar rel itu. Awalnya, ia menjual pakaian. Tetapi, kisahnya, pakaian tidak dibutuhkan orang setiap hari. Jadi, ia beralih menjadi pedagang minuman. “Kopi, susu, teh, air mineral, dan minuman dingin lainnya,” tegasnya sambil semringah.

Tubuhnya tampak kurus kecokelatan. Pipinya mengempis seperti tak berdaging. Ia terlihat tak pernah lelah. Dalam situasi yang mencekam sekali pun, Sri selalu bersemangat menyeberangi rel—demi pelanggan.

Sejak anak pertama menduduki kelas 1 Sekolah Dasar, ia sudah memiliki gubuk, persis hanya dua meter dari rel kereta. Tetapi pada 2007, semua gubuk digusur oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan lembaga perkeretaapian. Namun, setahun kemudian, ia balik lagi.

Sesekali, perempuan 38 tahun ini harus meninggalkan lapak demi melayani para pelanggan. Ya. Tentu saja, dengan semangat ia membuatnya. Sesekali pula, anak pertamanya ikut membantu kala tak sibuk. Itulah kenapa ia memilih menjual minuman. “Karena laris. Orang membutuhkan setiap waktu,” katanya lagi.

Perempuan murah senyum ini berkisah, hidup di sekitar rel kereta api mesti tegar. Dan itu adalah pilihan. “Jika tidak, mau makan apa?” Kadang-kadang, jidatnya sedikit mengernyit ketika menceritakan beberapa hari lalu keponakannya tewas tertabrak kereta. Ia sedih, karena sang keponakan biasa rajin membantunya. Dan kini telah tiada.

Meski begitu, ia tak pernah menyesali. Sebab, itu bukan salah kereta, tetapi salah yang ditabrak. “Sudah lebih dari 50 orang yang meninggal,” katanya lagi. Dan itu, lanjutnya, berlangsung seperti biasa. Seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan santunan sebesar Rp25 juta. “Keponakan saya dibayar segitu,” katanya. Ketika ditanya, “Ya, setiap orang mati ketabrak, diberikan santunan segitu.”

Percakapan saya dengannya sesekali terhenti ketika kendaraan panjang itu mendekat. Bising di mana-mana. Peluit pertanda kereta api mendekat berbunyi menambah pening. Kehebohan pun terjadi. “Woi, mau mati?,” teriak beberapa orang, ketika kereta api mulai mendekat. Tentu saja itu hanya gurauan belaka.

Sri datang dari Pulau Jawa. Bertaruh nasib di ibu kota untuk menyambung hidup keluarga. Memang, katanya, kebanyakan pedagang di sini asal Pulau Jawa. Ketika ditanya kenapa berdagang di sekitar rel kereta, ia berdalih lantaran tak ada lahan. “Ndak ada pilihan,” ujarnya di tengah kesibukan membuat es teh jeruk pesanan pedagang sayur, yang tak jauh dari lapaknya.

Setiap lima menit, pada setiap jalur tempat lapak Sri berada, kereta lewat. Serasa tak ada kekhawatiran yang berlebihan ketika kendaraan umum bergerbong delapan itu lewat. Meskipun telah puluhan orang meninggal tertabrak. Bahkan ada beberapa orang yang berani menyeberang, ketika jarak kereta dengannya hanya berpaut sepuluh meter.

Masa depan ditentukan oleh diri sendiri, tegas Sri, sambil duduk lesuh, sehabis mengantar pesanan pelanggan. Ia menyatakan akan terus berdagang, “Sampai sudah nda mampu!” tegasnya.

Meski begitu, ia berharap bahwa tak ada lagi kegiatan menggusur dilakukan PT KAI. Sebab, mencari rezeki di sekitar rel, katanya, menjadi satu keharusan karena lahan di ibu kota semakin sempit. “Jika ada, paling nyewa nya mahal.”

Berangsur-angsur, Matahari mulai bergulir ke atas. Para pedagang satu-persatu mulai mengemas dagangan. Begitu pun dengan Sri. Ia akan kembali ke rumah untuk melakukan aktivitas lain.

“Aku akan tetap terus berdagang,” ujarnya. (aks/iks)

… Bersambung….

*Artikel ini ditulis oleh M Rifai Hadi, salah satu peserta The Writer’s Workshop Angkatan I. Fhay, begitu M Rifai Hadi biasa disapa, sengaja datang dari Palu, Sulawesi Tengah, untuk mengikuti workshop ini selama tiga bulan. Tulisan ini merupakan tugas dalam materi workshop Penulisan Laporan Mendalam, 15 November 2015.