15 Agu 2017

Sekolah Feature di Hutan Pinus

Gelonggongan kayu disulap menjadi tribun dengan panggung di tengah setengah lingkaran. Sejumlah orang berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil di area itu sejak pagi, 12 Agustus lalu.

Jika sekolah pada umumnya berbentuk bangunan seperti rumah, namun di tengah Hutan Pinus Mangunan, Bantul, Yogyakarta, gelonggonan kayu itulah yang menjadi meja sekaligus kursi. Pengelola menamainya Panggung Sekolah Hutan.

Di sekeliling, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, berbaris rapi. Udara sejuk menyeruak di antara helaan napas pengunjung yang datang. Bunga pinus berserakan di tanah, ranting berguguran, terkumpul bak jerami, menemani peserta mengikuti sekolah feature di hutan pinus.

Moderator, Dwi Makmun, sedang menjelaskan agenda Rilis Buku dan Pelatihan Penulisan Feature di Hutan Pinus Mangunan (12/8/2017). (PPPA Daarul Quran Photo)

Sedikitnya 100 peserta yang mayoritas maahsiswa dari berbagai universitas, mengikuti agenda bertajuk Rilis Buku “Yang Terlupa Yang Menyapa” dan Pelatihan Menulis Feature.

“Awalnya Panggung Sekolah Hutan dibuat untuk sekolah alam,” seorang pengelola Hutan Pinus Mangunan menjelaskan.

Konsep Panggung Sekolah Hutan memang belajar di alam, tanpa dinding yang membatasi ruangan. Sekolah beratapkan langit, beralas tanah.

Namun konsep tersebut belum sepenuhnya terealisasi. Pengelola mengakui, panggung tersebut tak lebih dari spot selfie bagi masyarakat yang berkunjung. Pengelola berharap komunitas atau masyarakat dapat memanfaatkan tempat tersebut untuk belajar mengajar.

Rosmiyati Dewi Kandi dari Aksara Institute menjelaskan materi usai praktik penulisan feature. (PPPA Daarul Quran Photo)

Bagi para peserta, mengikuti pelatihan di Panggung Sekolah Hutan merupakan pengalaman unik. Peserta seperti sedang menonton orkestra atau melihat pertunjukan seni.

Kursi-kursi berundak seperti tribun dan melengkung mengikuti bentuk panggung. Saat pagi hari, suasana belajar kondusif. Tidak ada suara menderu kendaraan bermotor lalu lalang, udara menyejukkan, sebuah kemewahan untuk menyemangati belajar di akhir pekan.

“Ikut acara ini karena sekalian jalan-jalan, tempatnya asik. Bisa belajar nulis sambil refreshing,” ujar Riva, salah seorang peserta.

Para pemateri berasal dari berbagai latar belakang yaitu penggerak literasi asal Solo, Bandung Mawardi; pemilik toko buku online pilihbuku.com Gumanti; mahasiswa Universitas Gadja Mada (UGM) Yogyakarta sekaligus peserta Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTW) for Leader Miftah Farid; dan pengajar Aksara Institute yang juga mantan jurnalis CNNIndonesia.com Rosmiyati Dewi Kandi.

Sesi pertama agenda tersebut adalah bedah buku yang ditulis anak-anak di pinggiran Sungai Code, Yogyakarta. Pelatihan menulis feature dilakukan setelah jam makan siang.

Para pemateri dalam Rilis Buku “Yang Terlupa Yang Menyapa” dan Pelatihan Penulisan Feature. (PPPA Daarul Quran Yogayakarta Photo)

Pengenalan tentang penulisan feature hanya berlangsung selama 15 menit dan langsung diikuti dengan praktik. “Teori-teori tentang penulisan feature bisa dengan mudah diakses di buku atau website. Kita akan langsung praktik, setelah itu mempelajari teori sambil menilai tulisan,” ujar Kandi.

Setelah peserta diberi waktu praktik menulis feature sebanyak lima hingga tujuh paragraf dalam waktu 30 menit, Kandi langsung membacakan naskah peserta. Sekali dua kali, kadang-kadang di setiap paragraf, tulisan itu dikoreksi, sambil menjelaskan alasan naskah itu perlu diperbaiki.

Maulana Kurnia Putra, Pimpinan Cabang Program Pendidikan Penghafal Alquran (PPPA) Daarul Quran Yogyakarta menjelaskan, tujuan diadakan acara ini selaras dengan konsep pengelola hutan pinus dalam membangun Panggung Sekolah Hutan.

“Tujuannya juga agar anak-anak muda bisa mewarnai media publikasi dengan tulisan Islami. Semoga setelah ini bisa menginspirasi yang lain,” kata Maulana. (aks)

 

Artikel ini—yang sudah melalui proses penyuntingan—ditulis oleh Nur Fitriatus Shalihah, mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta angkatan 2013, yang juga menjadi peserta saat pelatihan penulisan feature di Hutan Pinus Mangunan.

Leave a Reply