22 Sep 2017

Bersolek Demi Memantaskan Kota untuk Anak

Pemandangan sore hari di Vila Mutiara Cinere (VMC), Depok, Jawa Barat, seakan tak berubah. Anak laki-laki berselendang sarung, yang perempuan menjinjing tas kecil berbahan kain. Tampak ulasan bedak menempel di dahi beberapa di antara bocah-bocah itu.

Mereka keluar dari rumah, berjalan berkelompok kecil, menyambangi temannya yang belum muncul, lalu sambil bercakap-cakap menuju masjid.

Suara riuh rendah semakin kuat terdengar di masjid kompleks berlantai dua, beberapa menit menjelang matahari tenggelam. Beberapa balita berlari kejar-kejaran saat bertemu temannya, suara mereka memekik tak tertahan, anak usia sekolah dasar membicarakan game terbaru sambil berwudhu.

Masjid benar-benar ramai dan makmur, sesuai dengan namanya, Masjid Al-Makmur.

Sejumlah anak yang terlihat membawa secarik kertas berlari menemui Faqih, pengurus masjid, meminta tolong dinyalakan pengeras suara. Walau masih agak kerepotan dengan tugas, Faqih menuruti permintaan anak-anak, yang ingin melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad sambil menunggu waktu Magrib.

Ilustrasi anak-anak belajar. (Pixabay Photo)

Raahatil Athyaru Tasyduu fi Layali Maulidi…, anak-anak terdengar fasih melantunkan syair yang dipopulerkan Habib Syech asal Kota Solo, Jawa Tengah.

Azan dikumandangkan Faqih. Anak-anak mundur dan merapikan baju. Suara riuh berkurang.

Begitu iqamah dikumandangkan salah seorang anak kelas 2 SD, mereka mulai membentuk barisan salat. Salat Magrib petang hari itu dihadiri sekitar 200 orang, hampir separuhnya adalah anak-anak. Suara berisik mereka hilang sama sekali.

Takdir Syah, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Makmur yang juga Guru SMP 131 Jakarta tersenyum melihat polah anak-anak di masjid yang menjadi tanggung jawabnya tahun ini.

“Anak-anak punya hak untuk meramaikan masjid. Kalau mereka bikin ramai yang cenderung gaduh enggak apa-apa. Namanya juga anak-anak. Kita harus bisa mengarahkan dengan mendampingi saat salat untuk meminimalkan kegaduhan. Selebihnya, jangan kita rampas kebahagiaan masa anak-anak mereka,” ujar Takdir.

VMC ditunjuk menjadi proyek percontohan program Kota Layak Anak yang dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Kompleks perumahan dengan jumlah sembilan rukun tetangga (RT) ini terletak di RW 11, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo.

Beberapa aktivitas penunjang program Kota Layak Anak dilaksanakan di kompleks perumahan ini. Setiap RT menerapkan jam belajar anak-anak antara pukul 18.00 WIB hingga 20.30 WIB setiap hari aktif belajar, banner ukuran sedang banyak tersebar di setiap lingkungan mengingatkan program tersebut. Pada jam-jam itu, televisi dan alat komunikasi tidak boleh diaktifkan di rumah-rumah warga.

Jika ada anak kedapatan berkeliaran di antara jam itu, warga yang melihat diperkenankan menegur.

Rahmah Yuningsih, ibu rumah tangga yang dikenal sebagai ustazah di lingkungan VMC, termasuk tokoh yang giat memperjuangkan keberhasilan program Kota Layak Anak. Ibu tiga anak ini aktif di LSM Forum Kota Layak Anak (FOKLA) yang menjadi mitra pemerintah kota dalam menyukseskan program tersebut.

Rumah Rahmah disulap menjadi tempat kegiatan anak-anak dengan label Rumah Baca Mutiara. Di antara kegiatannya adalah pemberantasan buta huruf Alquran, perpustakaan, pola asuh anak (parenting), bimbingan belajar, dan keterampilan.

“Rumah baca ini hasil swadaya masyarakat untuk memfasilitasi kegiatan anak-anak. Mereka berkumpul sambil belajar. Kasihan kalau mereka bermain begitu saja tanpa bimbingan,” tutur Rahmah.

Ilustrasi. Anak-anak belajar. (Pixabay Photo)

VMC menjadi salah satu di antara permukiman dan perumahan warga yang tersebar di 70 rukun warga, yang menjalankan program Kota Layak Anak. Mereka ramai-ramai bersolek demi memantaskan kota untuk anak-anak.

Tahun ini, Kota Depok meraih penghargaan Kota Layak Anak untuk kategori Nindya. Menurut Wali Kota Depok Mohammad Idris, penghargaan tersebut merupakan bukti kerja keras semua pihak mendukung program tersebut.

Idris menjelaskan, perkembangan Kota Layak Anak semakin meningkat dengan jumlah rukun warga layak anak yang semakin bertambah. Jumlah 70 RW layak anak yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Depok tersebut menunjukkan peningkatan dibanding sebelumnya sebanyak 63 RW.

“Sekarang di mal-mal tidak ada lagi asap rokok, di pertokoan ada tempat khusus menyusui anak, dan kami menargetkan agar di setiap kelurahan ada tempat bermain anak, untuk menghormati hak anak agar tetap sehat,” ujar Idris seperti dikutip dari laman resmi Pemkot Depok.

RW dan RT merupakan satuan masyarakat yang terdekat dengan anak. Hal ini dipahami betul oleh Eri Atmojo, Ketua RW 11. Eri termasuk salah satu yang getol menyosialisasikan program RW Ramah Anak.

“Kami di RW selalu meminta keterlibatan RT dan warganya. Hanya, itu belum mewakili keseluruhan warga. Warga kami memang harus selalu diedukasi secara berkesinambungan,” ucap Atmojo.

Warga, menurut Atmojo, masih banyak yang belum menyadari program tersebut penting. Dukungan yang sudah diberikan Pemkot Depok, harus ditunjang dengan keterlibatan warga, sebagaimana diamini Rahmah.

“Mendidik dengan baik anak-anak di lingkungan kita sama saja menyiapkan lingkungan yang baik untuk anak sendiri,” katanya. (ita/rdk)

 

*Ditulis oleh Mohammad Sofwan, salah satu peserta Kelas Literasi Media Angkatan IV, sebagai bagian dari praktik materi Penulisan Feature. Artikel ini dipublikasikan setelah melalui proses penyuntingan oleh Aksara Institute.

Leave a Reply