Kuantitas Berita Dipangkas, Jumlah Pembaca Justru Bertambah

Media siber identik dengan jumlah artikel yang bukan hanya beragam, tetapi juga banyak dalam hal kuantitas. Argumentasi yang dibangun adalah, semakin banyak artikel yang diproduksi dan ditayangkan, akan semakin banyak mendatangkan pengunjung dan klik. Benarkah demikian?

The Guardian, The Times London, dan Le Monde membuktikan sebaliknya. Ketiga media tersebut memangkas jumlah artikel yang diterbitkan dan hasilnya, jumlah pengunjung ke laman mereka malah mengalami pertumbuhan, audiens menghabiskan waktu lebih lama membaca, dan terjadi peningkatan jumlah pelanggan.

Ilustrasi membaca berita. (Sumber: Pixabay.com)

Sepanjang tahun 2019, sebanyak sepertiga dari total produksi artikel mingguan The Guardian dipangkas. Menurut editor proyek strategis The Guardian Chris Moran, pemangkasan dilakukan setelah hasil analisis menggunakan alat real-time Ophan menunjukkan, tidak ada seorang pun yang membaca sebagian besar artikel berita yang diproduksi.

Pemimpin Redaksi The Guardian Kathrine Viner berkicau di Twitternya, “Perubahan tersebut membuat pertumbuhan jumlah pengunjung,” sebagaimana dikutip Aksara dari digiday.com, 7 Maret 2020. Hal tersebut terbukti dari data Comscore, jumlah pengunjung unik bulanan The Guardian naik dari 23,4 juta tahun 2018, menjadi 25 juta per Desember 2019.

Langkah yang lebih ‘membingungkan’ diambil Le Monde. Media yang berbasis di Perancis tersebut mengurangi jumlah artikel hingga 25 persen, namun menambah jumlah staf redaksi mereka hingga 500 orang jurnalis. Sebuah langkah bisnis yang biasanya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Indonesia: pengurangan jumlah artikel sama saja mengurangi jumlah wartawan.

Luc Bronner, redaktur pelaksana Le Monde, dalam twitnya mengatakan, “Audiens media siber naik 11 persen, sementara sirkulasi cetak juga tumbuh 11 persen.” Fakta tersebut diperkuat dengan data Comscore yang melaporkan, selama Desember 2019, Le Monde memiliki 9,1 juta pengguna unik bulanan, naik dari 8,4 juta per Desember 2018.

Sementara itu, The Times London menayangkan laporan jurnalistik 15 persen lebih sedikit di bagian Beranda setelah mempelajari bahwa artikel-artikel tanpa tambahan atau konten ekslusif memiliki kinerja buruk bagi pembaca. Sejalan dengan perubahan jumlah artikel, durasi waktu membaca di bagian tersebut meningkat: pembaca The Times di aplikasi ponsel pintar rata-rata menghabiskan waktu 28 menit per hari di bagian Beranda; catatan waktu yang berarti peningkatan 25 persen dibanding rentang waktu yang sama tahun sebelumnya.

Selain media dari negara-negara di Eropa tersebut, media lokal dari South Carolina, Amerika Serikat, The Post and Courier, mengalami peningkatan jumlah pelanggan sebanyak 250 persen dari hanya 1.700 menjadi 6 ribu pada 2017-2019. Sebelumnya, mereka memproduksi artikel sebanyak 50-65 per hari, dan setelah dievaluasi, mereka memangkasnya hingga menjadi 30 laporan mendalam.

Analis media Thomas Baekdal mengatakan, artikel tertentu memiliki jangkauan yang besar sementara berita lainnya tidak pernah dilihat, terlepas dari kualitas artikel tersebut. Hal itu terjadi karena orang hanya membaca sejumlah kecil artikel di media siber, sementara membaca media cetak dari depan ke belakang, yang berarti lebih banyak artikel dilihat meski tak selalu dibaca. Karena sifat Internet yang tak terbatas, media siber kerap tergoda untuk menghasilkan konten yang berlimpah demi mencari pendapatan.

“Tidak ada bedanya bagi media digital menerbitkan 100, 500, atau 1.000 artikel. Bagi pembaca, justru kualitas dan daya tarik artikel yang penting. Terlihat jelas di YouTube bahwa akun paling populer jarang mengunggah lebih dari sekali atau dua kali sehari. Media melihat ini, melakukan analisis, dan menemukan bahwa ketika artikel yang tak berharga dipotong, tidak ada yang menyadari bahwa artikel itu hilang,” kata Baekdal.

Di Indonesia, detikcom merupakan media siber pertama dan menjadi acuan kerja media-media daring lainnya yang lahir kemudian. Ketika awal berdiri tahun 1998, Detik menugaskan wartawan untuk melaporkan langsung saat kejadian melalui sambungan telepon. Tak heran jika artikel yang diproduksi sangat banyak.

“Kunci sukses detikcom adalah jumlah berita per wartawan. Wartawan harus ekstra produktif mengirim belasan laporan per hari dan semua laporan sudah layak siar, update (memperbarui) berita tanpa henti,” mengutip Jurnal Dewan Pers bertajuk “Bisnis Media dan Jurnalisme, di Persimpangan”.

Tapi jurnalisme adalah bidang yang dinamis. Terjadi perkembangan teknologi, pergeseran kebutuhan audiens, serta semakin ketatnya persaingan bisnis di antara media siber, yang pada gilirannya membawa banyak perubahan. Fakta yang terjadi di empat media asing di atas adalah contohnya. Bukan tidak mungkin, hal yang sama bisa terjadi di media-media di Indonesia bahwa mengurangi jumlah artikel justru bisa meningkatkan jumlah pembaca. (fau/dka)

Leave a Reply